Kalo ada orang yang bilang "Jatuh cinta itu bodoh." atau "Jatuh cinta itu bikin orang bodoh", gue sangat setuju sekali dengan si pembuat quote tersebut.
Orang normal, kalo jadi gue, saat ini juga, seharusnya akan bisa 72 jam full non stop tersenyum terus.
Gue? Hahahah basah nih bantal gue kena banjiran air mata gue.
Gak waras. Bodoh. Menggelikan. Konyol. Ugh. Stop gue lah siapapun.
Butuh waktu 15 menit buat gue sadar kenapa bisa kaya gini.
Takut kehilangan. Gah. Siapapun rajam gue aja deh pake albumnya boyband kacangan indonesia.
Monday, February 13, 2012
Tuesday, January 24, 2012
i'm alone wandering here
Matahari sore hari. Dari dulu gue sangat suka cuaca dan waktu seperti ini.
Sama kayak sekarang. Sendirian, gue merebahkan diri gue di alat fitness tante gue yang nggak terlalu nyaman ini. Sinar matahari melingkupi gue. Panas emang, tapi gue suka. Ipod jadi satu-satunya temen bersuara gue.
Dan saat itu juga gue baca berita yang seharusnya sangat sangat gue tunggu, tapi ternyata hasilnya nggak sesuai yang diharapkan.
FUCK.
Cuma kata itu yang berulang kali keluar dari mulut ini. Bahkan angin yang meniup nggak bisa menenangkan kepala gue, kaya sebelum-sebelumnya.
Segala hal berkelibat di kepala gue. Mencoba memeras otak yang berdebu karena jarang digunain ini, berharap bisa memecahkan kasus ini seperti yang selalu dilakukan di masa lalu.
"Holyshit. Ini bener-bener God's test." batin gue.
Ini gila. Otak pemberontak gue nggak bisa memecahkan kasus ini. Kasus ini level Yoda, bung! Mungkin dengan yang sudah gue lakukan dulu dan pencapaian yang gue raih dulu, mungkin gue selevel Jedi untuk beberapa orang. Tapi sekali lagi, ini LEVEL YODA! Dan gue putus asa. Walaupun jangka waktu pemerasan otak ini cukup singkat, tapi hampir semua kemungkinan udah gue pikir mateng-mateng. Ini benar-benar Mission Impossible.
Pertama, GUE JELAS-JELAS BUKAN TOM CRUISE. Kedua, GUE BUKAN AGEN IMF YANG MEMILIKI GADGET YANG BISA DIRAIH DI ABAD 26! Ketiga, HIDUP GUE BUKAN FILM MISSION IMPOSSIBLE!
Gue menghela nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ipod, dengan perawakan Hitlernya menampar gue dengan lirik lagu:
"A heavy plate for one to undertake."
Di saat keadaan tidak seperti yang diharapkan, mari menelan crosstrainer di sebelah gue ini.
Sama kayak sekarang. Sendirian, gue merebahkan diri gue di alat fitness tante gue yang nggak terlalu nyaman ini. Sinar matahari melingkupi gue. Panas emang, tapi gue suka. Ipod jadi satu-satunya temen bersuara gue.
Dan saat itu juga gue baca berita yang seharusnya sangat sangat gue tunggu, tapi ternyata hasilnya nggak sesuai yang diharapkan.
FUCK.
Cuma kata itu yang berulang kali keluar dari mulut ini. Bahkan angin yang meniup nggak bisa menenangkan kepala gue, kaya sebelum-sebelumnya.
Segala hal berkelibat di kepala gue. Mencoba memeras otak yang berdebu karena jarang digunain ini, berharap bisa memecahkan kasus ini seperti yang selalu dilakukan di masa lalu.
"Holyshit. Ini bener-bener God's test." batin gue.
Ini gila. Otak pemberontak gue nggak bisa memecahkan kasus ini. Kasus ini level Yoda, bung! Mungkin dengan yang sudah gue lakukan dulu dan pencapaian yang gue raih dulu, mungkin gue selevel Jedi untuk beberapa orang. Tapi sekali lagi, ini LEVEL YODA! Dan gue putus asa. Walaupun jangka waktu pemerasan otak ini cukup singkat, tapi hampir semua kemungkinan udah gue pikir mateng-mateng. Ini benar-benar Mission Impossible.
Pertama, GUE JELAS-JELAS BUKAN TOM CRUISE. Kedua, GUE BUKAN AGEN IMF YANG MEMILIKI GADGET YANG BISA DIRAIH DI ABAD 26! Ketiga, HIDUP GUE BUKAN FILM MISSION IMPOSSIBLE!
Gue menghela nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ipod, dengan perawakan Hitlernya menampar gue dengan lirik lagu:
"A heavy plate for one to undertake."
Di saat keadaan tidak seperti yang diharapkan, mari menelan crosstrainer di sebelah gue ini.
Sunday, January 15, 2012
pardon my temper tantrum
Inilah alasan kenapa gue lebih memilih untuk nggak me-label-i teman-teman gue. Gue nggak pernah melabeli teman ke dalam tingkatan seperti 'BFF' atau 'Sahabat' atau 'Besties' atau lainnya. Sejauh 'label' yg gue buat itu cuma dua: "Teman (main)" dan "Teman sekolah". Yg masuk ke kategori 'teman sekolah' adalah orang-orang yang kebetulan pergi ke sekolah yg sama dengan gue dan menjalin kontak dengan gue secara sangat minim. Yg kontaknya lebih sering masuk ke teman main. Itu sejauh yg gue lakukan dalam 'pelabelan' teman ini. Tapi di kelompok 'teman main' gue sangat jarang, oh bahkan hampir nggak pernah melabeli mereka ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
Walaupun tingkah laku dan sifat gue menunjukan tingkatan label-label itu, tapi gue nggak pernah secara verbal mendeklarasikan kalau mereka merupakan label tertentu di lingkaran pertemanan gue.
Karena apa? Pengalaman seumur hidup dari jaman gue pertama kali mengenal makhluk yang namanya 'teman' tentu aja. Setiap kali gue dalam hati meyakinkan ke diri sendiri bahwa beberapa orang tertentu itu adalah sahabat, gue selalu dibuat kecewa, dikhianati, dilupakan, diabaikan, diinjak-injak, bahkan nggak dianggap, yang akhirnya diakhiri dengan 'go our separate ways'. Bahkan yang baru saja terjadi di post sebelumnya, orang yang gue labeli sahabat itu bahkan malas menghabiskan waktunya dengan gue. Setiap kali dengan masalah yang berbeda tiap kasusnya. Membuat gue menyesal pernah melabeli mereka sebagai sahabat.
Mungkin gue yang terlalu sensitif, kesalahan kecil gue besar-besarkan. Mungkin memang gue yang belum waktunya ketemu 'sahabat yang sebenarnya'. Mungkin gue yang harus belajar memahami. Mungkin 17 tahun umur gue belum cukup untuk menemukan orang yang layak dilabeli sahabat. Atau mungkin, sama seperti halnya pasangan hidup atau jodoh, mungkin gue adalah satu dari beberapa orang 'beruntung' lainnya yang ditakdirkan tanpa sahabat.
Jadi bukan gue nggak menganggap mereka sahabat atau nggak mau menganggap sahabat. Tapi gue rasa gue butuh waktu untuk memberi seseorang label 'sahabat'.
Lagipula, apa pentingnya label itu sendiri? Apa gunanya label itu, jika tanpa label, hubungan teman kita tetap menyenangkan?
Ugh so much for friendship.
Walaupun tingkah laku dan sifat gue menunjukan tingkatan label-label itu, tapi gue nggak pernah secara verbal mendeklarasikan kalau mereka merupakan label tertentu di lingkaran pertemanan gue.
Karena apa? Pengalaman seumur hidup dari jaman gue pertama kali mengenal makhluk yang namanya 'teman' tentu aja. Setiap kali gue dalam hati meyakinkan ke diri sendiri bahwa beberapa orang tertentu itu adalah sahabat, gue selalu dibuat kecewa, dikhianati, dilupakan, diabaikan, diinjak-injak, bahkan nggak dianggap, yang akhirnya diakhiri dengan 'go our separate ways'. Bahkan yang baru saja terjadi di post sebelumnya, orang yang gue labeli sahabat itu bahkan malas menghabiskan waktunya dengan gue. Setiap kali dengan masalah yang berbeda tiap kasusnya. Membuat gue menyesal pernah melabeli mereka sebagai sahabat.
Mungkin gue yang terlalu sensitif, kesalahan kecil gue besar-besarkan. Mungkin memang gue yang belum waktunya ketemu 'sahabat yang sebenarnya'. Mungkin gue yang harus belajar memahami. Mungkin 17 tahun umur gue belum cukup untuk menemukan orang yang layak dilabeli sahabat. Atau mungkin, sama seperti halnya pasangan hidup atau jodoh, mungkin gue adalah satu dari beberapa orang 'beruntung' lainnya yang ditakdirkan tanpa sahabat.
Jadi bukan gue nggak menganggap mereka sahabat atau nggak mau menganggap sahabat. Tapi gue rasa gue butuh waktu untuk memberi seseorang label 'sahabat'.
Lagipula, apa pentingnya label itu sendiri? Apa gunanya label itu, jika tanpa label, hubungan teman kita tetap menyenangkan?
Ugh so much for friendship.
Thursday, January 12, 2012
Keledai
Aku ini manusia biasa. Seperti manusia lain, aku terkadang jatuh ke dalam lubang-lubang yang dibuat penggali lubang. Tapi entah kenapa, setiap kali aku jatuh, aku selalu jatuh cukup dalam. Dan dengan menyedihkannya, tidak pernah ada yang membantu menangkap. Aku bisa lihat teman-temanku berjatuhan dan ditangkap. Rasanya pasti seperti diselamatkan oleh si penggali lubang. Lalu mereka menetap di lubang itu.
Tapi aku berbeda. Aku jatuh ke satu lubang. Seperti biasa cukup dalam. Sakit. Berulang kali aku terbentur dinding-dinding dan segala benda tajam di lubang itu. Aku menunggu berharap aku jatuh ke lubang yang tepat. Berharap di bawah sana pasti dia akan menangkap. Tapi tidak. Si penggali lubang tidak pernah datang menangkap.
12 periode aku jatuh. Aku sangat terluka. Aku pun ingat semua perkataan temanku. Tentang lubang ini. Bahwa si penggali lubang tidak akan pernah datang dan menangkap orang-orang yang jatuh. Dan bodohnya, aku tetap terjatuh juga.
Jadi aku memutuskan untuk berpegangan di dinding lubang dan memanjat lubang itu. Aku berhasil keluar. Aku lelah jatuh.
Instingku mengatakan aku harus melindungi diri. Aku pergi ke padang rumput yang luas, membangun dinding di sekitarku, membuat adonan semen yang banyak untuk menutup lubang itu supaya aku tidak berjalan-jalan dan jatuh lagi.
Dinding itu berusia sangat muda. Tidak sebanding dengan banyaknya periode yang aku habiskan di lubang itu.
Seakan para dewa di surga tidak menyukai tindakanku, setelah 1 periode aku mengurung diriku, aku belum bisa menemukan bahan yang tepat untuk menutupnya. Tiba-tiba badai menerpa, sangat kencang. Menerbangkan si penggali lubang ke padang rumputku.
Hujan badai yang bertubi-tubi menghujam dindingku membuat dinding itu lemah. Penggali lubang melakukan apa yang selalu ia lakukan. Menggali lubang yang dalam dan menghilang entah kemana. Sialnya, di padang rumputKU.
Aku yang masih berada dibalik dinding hanya bisa terdiam. Sampai suatu hari si penggali lubang melihat dinding yang cukup tinggi itu dan mengetuk dinding itu tanpa melihat aku yang sedang duduk memperhatikan. Entah apa alasannya.
2 ketukan. Lalu ia pergi menghilang. Seketika itu juga runtuhlah dinding yang aku bangun. Hancur berkeping-keping. Aku terperangah.
Aku sangat payah dalam membangun dinding perlindungan yang kokoh. Ya dinding itu lemah. Sama seperti aku. Dinding macam apa yang hanya dengan 2 ketukan langsung runtuh? "Membangun dinding perlindungan tidak semudah membalik telapak tangan", aku membela diri.
Dan hujan pun turun, dan semudah runtuhnya dindingku, aku tergelincir dan jatuh lagi ke lubang yang sama. Dengan harapan yang sama, berharap si penggali lubang datang dan menangkapku di bawah sana.
Seperti keledai.
Tapi aku berbeda. Aku jatuh ke satu lubang. Seperti biasa cukup dalam. Sakit. Berulang kali aku terbentur dinding-dinding dan segala benda tajam di lubang itu. Aku menunggu berharap aku jatuh ke lubang yang tepat. Berharap di bawah sana pasti dia akan menangkap. Tapi tidak. Si penggali lubang tidak pernah datang menangkap.
12 periode aku jatuh. Aku sangat terluka. Aku pun ingat semua perkataan temanku. Tentang lubang ini. Bahwa si penggali lubang tidak akan pernah datang dan menangkap orang-orang yang jatuh. Dan bodohnya, aku tetap terjatuh juga.
Jadi aku memutuskan untuk berpegangan di dinding lubang dan memanjat lubang itu. Aku berhasil keluar. Aku lelah jatuh.
Instingku mengatakan aku harus melindungi diri. Aku pergi ke padang rumput yang luas, membangun dinding di sekitarku, membuat adonan semen yang banyak untuk menutup lubang itu supaya aku tidak berjalan-jalan dan jatuh lagi.
Dinding itu berusia sangat muda. Tidak sebanding dengan banyaknya periode yang aku habiskan di lubang itu.
Seakan para dewa di surga tidak menyukai tindakanku, setelah 1 periode aku mengurung diriku, aku belum bisa menemukan bahan yang tepat untuk menutupnya. Tiba-tiba badai menerpa, sangat kencang. Menerbangkan si penggali lubang ke padang rumputku.
Hujan badai yang bertubi-tubi menghujam dindingku membuat dinding itu lemah. Penggali lubang melakukan apa yang selalu ia lakukan. Menggali lubang yang dalam dan menghilang entah kemana. Sialnya, di padang rumputKU.
Aku yang masih berada dibalik dinding hanya bisa terdiam. Sampai suatu hari si penggali lubang melihat dinding yang cukup tinggi itu dan mengetuk dinding itu tanpa melihat aku yang sedang duduk memperhatikan. Entah apa alasannya.
2 ketukan. Lalu ia pergi menghilang. Seketika itu juga runtuhlah dinding yang aku bangun. Hancur berkeping-keping. Aku terperangah.
Aku sangat payah dalam membangun dinding perlindungan yang kokoh. Ya dinding itu lemah. Sama seperti aku. Dinding macam apa yang hanya dengan 2 ketukan langsung runtuh? "Membangun dinding perlindungan tidak semudah membalik telapak tangan", aku membela diri.
Dan hujan pun turun, dan semudah runtuhnya dindingku, aku tergelincir dan jatuh lagi ke lubang yang sama. Dengan harapan yang sama, berharap si penggali lubang datang dan menangkapku di bawah sana.
Seperti keledai.
Sunday, December 4, 2011
trust me, i've said this a million times
After all this time, i'm just gonna say, "This has got to stop."
I have to stop this stupid and pathetic routine of mine. I have to stop expecting anything. I have to stop waiting.
All of my friends warn me about you. In fact, they never like you and they even feel sorry for the fact that I fall for you. But you know what I did? I spent one year of my life keeping my decision, hoping that one day you'll come up and prove them wrong.
But you didn't.
I've heard rumors. About the other girls who fell for you too, a long time ago before I did. They just gave up. I spent one year of my life, keeping the feeling inside, hoping that my fate would be different.
But it wasn't.
Why should i hold on and get hurt for so long if you don't even bother to give me one good reason?
One year is enough. I have GOT TO stop.
******************************
belajar lagi ah~
I have to stop this stupid and pathetic routine of mine. I have to stop expecting anything. I have to stop waiting.
All of my friends warn me about you. In fact, they never like you and they even feel sorry for the fact that I fall for you. But you know what I did? I spent one year of my life keeping my decision, hoping that one day you'll come up and prove them wrong.
But you didn't.
I've heard rumors. About the other girls who fell for you too, a long time ago before I did. They just gave up. I spent one year of my life, keeping the feeling inside, hoping that my fate would be different.
But it wasn't.
Why should i hold on and get hurt for so long if you don't even bother to give me one good reason?
One year is enough. I have GOT TO stop.
******************************
belajar lagi ah~
Thursday, December 1, 2011
One year
If you think this is an anniversary post, no. You're totally wrong. This is about something that is completely different.
One year. One goddamn year. One year of exhaustment. One year of being on this roller coaster of feeling. One year of disappointments and false hopes.
From that very one day, he stole something of mine, and ran so far that cupid couldn't catch him. From that very one day, i was drowning in amazement. From that very one day, my ears got pleased.
One year of keeping this feeling inside. One year of staring from a distance. One year of being nervous everytime he's around. One year of the stupid signal readings. One year of hoping for the same thing. One year of the heart race. One year of the warnings I got from my friends. One year of not giving up. One year of patiently waiting.
One year of wanting to talk to you.
This whole year, I keep talking to myself "Okay. Maybe not today. Maybe tomorrow.". I keep thinking that there's a hope.
All this year. Did I make a progress? Yes. A little. But still, doesn't change anything.
And after all this year, i desperately keep asking myself, "What should I do?"
One painful year of an unrequited love.
One year. One goddamn year. One year of exhaustment. One year of being on this roller coaster of feeling. One year of disappointments and false hopes.
From that very one day, he stole something of mine, and ran so far that cupid couldn't catch him. From that very one day, i was drowning in amazement. From that very one day, my ears got pleased.
One year of keeping this feeling inside. One year of staring from a distance. One year of being nervous everytime he's around. One year of the stupid signal readings. One year of hoping for the same thing. One year of the heart race. One year of the warnings I got from my friends. One year of not giving up. One year of patiently waiting.
One year of wanting to talk to you.
This whole year, I keep talking to myself "Okay. Maybe not today. Maybe tomorrow.". I keep thinking that there's a hope.
All this year. Did I make a progress? Yes. A little. But still, doesn't change anything.
And after all this year, i desperately keep asking myself, "What should I do?"
One painful year of an unrequited love.
Subscribe to:
Posts (Atom)



