Aku ini manusia biasa. Seperti manusia lain, aku terkadang jatuh ke dalam lubang-lubang yang dibuat penggali lubang. Tapi entah kenapa, setiap kali aku jatuh, aku selalu jatuh cukup dalam. Dan dengan menyedihkannya, tidak pernah ada yang membantu menangkap. Aku bisa lihat teman-temanku berjatuhan dan ditangkap. Rasanya pasti seperti diselamatkan oleh si penggali lubang. Lalu mereka menetap di lubang itu.
Tapi aku berbeda. Aku jatuh ke satu lubang. Seperti biasa cukup dalam. Sakit. Berulang kali aku terbentur dinding-dinding dan segala benda tajam di lubang itu. Aku menunggu berharap aku jatuh ke lubang yang tepat. Berharap di bawah sana pasti dia akan menangkap. Tapi tidak. Si penggali lubang tidak pernah datang menangkap.
12 periode aku jatuh. Aku sangat terluka. Aku pun ingat semua perkataan temanku. Tentang lubang ini. Bahwa si penggali lubang tidak akan pernah datang dan menangkap orang-orang yang jatuh. Dan bodohnya, aku tetap terjatuh juga.
Jadi aku memutuskan untuk berpegangan di dinding lubang dan memanjat lubang itu. Aku berhasil keluar. Aku lelah jatuh.
Instingku mengatakan aku harus melindungi diri. Aku pergi ke padang rumput yang luas, membangun dinding di sekitarku, membuat adonan semen yang banyak untuk menutup lubang itu supaya aku tidak berjalan-jalan dan jatuh lagi.
Dinding itu berusia sangat muda. Tidak sebanding dengan banyaknya periode yang aku habiskan di lubang itu.
Seakan para dewa di surga tidak menyukai tindakanku, setelah 1 periode aku mengurung diriku, aku belum bisa menemukan bahan yang tepat untuk menutupnya. Tiba-tiba badai menerpa, sangat kencang. Menerbangkan si penggali lubang ke padang rumputku.
Hujan badai yang bertubi-tubi menghujam dindingku membuat dinding itu lemah. Penggali lubang melakukan apa yang selalu ia lakukan. Menggali lubang yang dalam dan menghilang entah kemana. Sialnya, di padang rumputKU.
Aku yang masih berada dibalik dinding hanya bisa terdiam. Sampai suatu hari si penggali lubang melihat dinding yang cukup tinggi itu dan mengetuk dinding itu tanpa melihat aku yang sedang duduk memperhatikan. Entah apa alasannya.
2 ketukan. Lalu ia pergi menghilang. Seketika itu juga runtuhlah dinding yang aku bangun. Hancur berkeping-keping. Aku terperangah.
Aku sangat payah dalam membangun dinding perlindungan yang kokoh. Ya dinding itu lemah. Sama seperti aku. Dinding macam apa yang hanya dengan 2 ketukan langsung runtuh? "Membangun dinding perlindungan tidak semudah membalik telapak tangan", aku membela diri.
Dan hujan pun turun, dan semudah runtuhnya dindingku, aku tergelincir dan jatuh lagi ke lubang yang sama. Dengan harapan yang sama, berharap si penggali lubang datang dan menangkapku di bawah sana.
Seperti keledai.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




0 voices:
Post a Comment