Giving human beings too much credit.


Entah berapa kali gue bilang ke diri sendiri, "Snap yourself out of it!!" Tapi ya mau gimana. Semuanya menghantui gue begitu sih. Gue juga udah capek kalo harus cerita ke orang. Satu-satunya pelarian ya cuma blog ini. This thing keeps me alive dude hahahaha gangerti lagi kalau gak ada blog ini, mungkin benar gue akan meledak kaya human time bomb. Kaya isi otak gue meledak kemana-mana. Ugh disturbing image.

Apa ya.

Uhm.

Cuma masih gak habis pikir aja sih. Nggak pernah nyangka aja sih bakal ngalamin kaya gini. Or at least, gak pernah nyangka aja sih beneran kejadian. Kaya, woi, ini mimpi buruk doang kan? All I need to do is just wake up and everything would be alright again, right? 

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. 

Kalau ada orang yang ngatain gue seperti itu, (dan sebetulnya udah ada sih yang 'menampar' gue seperti itu), gue nggak menyangkal. Gue akui itu. Gue bodoh. Gue bodoh ya begitu mudahnya percaya. Bodoh banget emang. 

Salah ya sepertinya gue memandang seseorang, dan menganggap "There's a goodness in you" gitu? Salah ya gue melihat orang, walaupun gue tau apa yang orang lain lihat beda, tapi gue tetap menganggap, deep down inside, you're a human who have a conscience? Salah ya dulu gue dalam hati diam-diam bilang "Gue percaya lu nggak akan jahat sama gue kok."? Salah ya dulu gue bergumam, "Ah mungkin mereka bersikap begitu karena cuma memandang orang-orang ini sebelah mata. Mungkin itu cuma karena mereka nggak terlalu mengenal orang-orang ini. Orang-orang ini baik kok. Never judge a book by its cover kan..." lalu mengabaikan pendapat-pendapat lain? Salah ya gue sempat punya semacam 'goal' kaya "Gue pasti bisa buktiin kalau pandangan mereka salah. Gue pasti bisa buktiin kalau dia sebetulnya baik."

Sepertinya begitu. Ya kenyataan akhirnya, orang-orang yang punya pandangan berbeda dari gue itu benar. Bukannya buktiin orang-orang salah, malah buktiin kalau orang-orang benar. Dan justru gue sendiri yang kena getahnya. Dan mungkin orang-orang yang berpandangan berbeda itu lagi menertawakan gue kaya "Hahaha mampus. Salah sendiri bego ngeladenin."

True colors kalau kata orang. 

Apa gue yang berarti buta warna ya? Gue nggak bisa melihat 'warna' orang-orang gitu kali ya? Mata gue mencleng amat ya kalo bener gitu ya? Ck payah :)

Atau kacamata gue ya yang salah? Dan sekarang gue baru bisa melihat keadaan sekitar gue dari kacamata orang lain. Dari kacamata yang dipakai beberapa orang yang berpendapat berbeda itu. Dan gue bisa melihat apa yang mereka lihat. And it's not a pretty sight. 

Shocked much? 

Kadang terlintas di otak waktu pikiran lagi melayang kemana-mana: "What did I ever do?

Mungkin nggak mereka sebetulnya orang baik tapi jadi jahat karena gue melakukan suatu kesalahan yang fatal dan mereka murka lalu melakukan hal buruk itu? Mungkin gak orang-orang itu melakukan hal-hal buruk itu karena targetnya ya gue ini? "Ah elah Karin doang." Atau ya itu tadi, mungkin bukan karena gue melakukan sesuatu, tapi karena mereka emang orangnya begitu. That's just what they do. That's just how they treat people. And this is what I get for being Mother Teresa to that kind of people.

Yah. Ajarin saya caranya melihat sifat asli orang dong. Sigh.

Lessons learned #1


Dari sekian banyak kesialan yang menimpa akhir-akhir ini, let's be positive for once. Let's not be depressed for once. Oke akhirnya gue bisa bilang gue mulai bisa melihat bright side dari semua tetekbengek ini. Bisa dibilang sih gue akhirnya belajar lumayan banyak hal. It was such a wake up call. So here goes. I learn that:

  • I'm definitely, undoubtedly, NOT the most excellent judge of character.
  • Maybe they were right. Maybe I was just too blind to see. Maybe I was just too blind to walk through that other path that would turn this whole thing around. 
  • Maybe deep down inside, a little part of me DID see this coming. But I just chose to close my eyes, blindfold myself, and believe in things I shouldn't have in the first place. Stupid me~
  • Even though I realize that I made that mistake by believing in the wrong things, I didn't regret a single damn thing. It was a lesson worth its weight in gold. Everything is said and done. It's over. Let karma do the work.
  • Gue jadi bisa tau ya, mana yang benar-benar peduli, mana yang bodo amat, mana yang cuma kepo doang, mana yang peduli cuma karena merasa kewajiban doang, sama mana yang cuma pura-pura peduli karena seumur hidupnya cuma pake topeng sok baik padahal yang dipeduliin cuma dirinya sendiri. 
  • Just because someone says all the things that shows how nice of a person they are, doesn't mean they're actually nice. Because words are just words. People can say everything they want. It's what they really do that matters.
  • Real friend itu orang yang bisa memberi tau lu kapan lu benar dan kapan lu salah. Real friend bukan orang yang berseru 'woohoo you rock, buddy!' atas segala keputusan yang lu ambil. Real friend bukan orang yang berseru 'wow gilagila lu emang gokil banget deh gaada tandingannya ajib~!' saat lu bersikap menjadi orang brengsek (because everyone turns into a jerk at least once in their life). Karena gue percaya, orang-orang yang 'tepat' untuk ada di hidup lu itu adalah orang yang bisa membuat lu jadi orang yang lebih baik, bukan malah jadi rusak. Dan gue sangat bersyukur gue punya orang-orang itu di hidup gue. 
  • If a friend warns you about something that is not quite right, CONSIDER IT. Think it through. Because they might just see some things you can't see. Because you might just be blinded by the illusion you created.
  • Orang yang beragama, rajin ibadah, doa sana sini, dll itu belum tentu baik. Orang yang nggak beragama itu belum tentu brengsek. People are just never what they seem.
  • If someone really has some conscience, they should treat people as individuals who have a heart. Not as an object or property. 
Sejauh ini sih baru segitu yang gue pelajari. Tapi sepertinya ada lagi tapi gue lupa atau belum sadar. Well tunggu aja deh semoga ada #2 nya :P

A heavy plate for one to undertake.


Lelah.

Kedengaran dramatis tapi sungguh, saya lelah.

Memendam itu melelahkan. Bertahun-tahun semuanya saya pendam. Saya kira juga saya jadi tambah ahli dan kebal dalam hal 'pendam-memendam'. Ternyata tidak.

"Crying will make you feel better"? Well, iya kalo bisa. Iya kalo saya artis sinetron yang bisa mengeluarkan air mata dengan mudah. But no. I can't even remember how to cry. I can't even find something worth crying about.

Does a human time bomb really exist? I can't imagine.

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE