And it's all coming back again.

3:24 AM


Berulang-ulang kali gue katakan. Beribu-ribu kali gue yakinkan diri gue. Gue udah pindah halaman kok. Secara logika, gue jelas-jelas udah pindah halaman. Gue udah nggak di halaman itu lagi. Semua orang pun bisa melihat kalau gue sendiri justru ada di halaman kosong baru ini. Halaman kosong yang siap gue tulis untuk tulisan baru. Bahkan gue baru aja selesai menulis halaman lain lagi. I'm a hundred pages ahead. Halaman 'itu' seharusnya udah lewat cukup lama.

Sampai hari itu...


---------------------------------------------------------------------

Waktu itu niat gue udah bulat untuk nggak pergi ke sana. Malas, alasan gue. Bukannya karena malas ketemu orang yang akan ditemui, tapi... Entahlah. Malas gerak. Sampai tiba-tiba gue diculik oleh salah seorang sahabat. Gue pun nurut aja akhirnya daripada harus berdiam diri di rumah.

Kembali ke sana lagi. Hmh cukup beda sih dengan yang ada waktu jaman gue dulu. Dan di sana gue. Bersama mereka lagi. Duduk-duduk nggak imut lagi. Makan bersama lagi. Teriak-teriak heboh lagi. Ketawa terbahak bahkan terkikik lagi cuma karena hal sepele yang mungkin untuk orang awam nggak lucu. Melakukan hal bodoh yang biasa kami lakukan. Seperti dulu lagi.

Lalu sosok agak familiar mencolok di sudut mata gue. Gue nengok. Ternyata dia. Berdiri sekian meter agak jauh.

Gue berusaha untuk mengabaikan dan tetap bercanda dan ngerumpi. Berpura-pura nggak pernah menyadari kehadiran dia. Ya lu tau kan, gue berusaha melakukan hal yang dilakukan orang yang sudah pindah halaman: tidak peduli. Lalu beberapa jam kemudian, semuanya berubah. Apa yang berubah? Ok let's put it this way.

Pernahkah lu pergi ke suatu tempat yang jadi bagian dari masa lalu lu? Lalu di sana ada orang-orang yang selalu mengisi masa lalu lu, baik orang yang menjadi subjek utama masa lalu itu maupun orang-orang lain yang ikut berperan juga? Lalu tiba-tiba dua lagu yang paling mengingatkan lu tentang masa lalu itu atau subjek utama itu diputar, di tempat itu juga, bersama orang-orang itu juga?

Belum? Percayalah. Rasanya itu sangat menyesakkan. In both good and bad ways.

Menit demi menit gue di sana, tembok pertahanan gue semakin terkikis. Tembok pertahanan yang selama ini menahan semua kenangan yang tertulis di halaman 'itu'. Tembok yang membatasi sekarang dan masa lalu.

Entah apa yang sebenarnya terjadi tapi dari mata gue, bukan cuma gue yang diam-diam berubah. Tapi mereka. Mereka berubah jadi... Sama persis seperti mereka yang dulu. Seakan-akan mereka transformasi mundur ke periode waktu itu. Sikap mereka, tindak-tanduk mereka, gelagat mereka. Dan gue yang menghabiskan waktu bersama mereka, seperti terkena domino effect, juga secara nggak sadar mulai bertransformasi mundur. Diri gue yang dulu pun kembali. Diri gue yang pemalu. Diri gue yang selalu bingung harus melakukan apa. Diri gue yang ketakutan. Diri gue yang selalu dengan bodohnya menutup-nutupi dengan cara yang konyol. Diri gue yang cuma berani melihat dari jauh. Diri gue yang selalu salah tingkah. Diri gue yang selalu menunggu waktu yang tepat instead of menciptakan kesempatan. Diri gue yang selalu mati-matian menyembunyikan perasaan.

Tiba-tiba lagu pertama dari kedua lagu yang gue sebut tadi dimainkan. Lagu yang liriknya benar-benar mendeskripsikan luapan-luapan perasaan gue di masa lalu. Begitu melodi intro dari instrumen gitar dimainkan dengan sangat lembut, rasanya seperti ada wrecking ball yang menghantam hancur tembok pertahanan gue. Sementara mereka masih terus bersikap seperti itu. Dan gue yang menutup-nutupi sambil salah tingkah. Dan gue yang sempat melihat dia in a distance di tengah-tengah lagu.

Sampai akhirnya lagu kedua yang gue sebut tadi dimainkan tanpa disangka-sangka. Lagu yang tidak pernah gagal mengingatkan gue tentang dia. Dan kali ini gue cuma bisa menatap ke depan secara kosong sambil ikut menyanyikan lagunya dengan pelan. Di dalam otak gue, gue cuma bisa melihat potongan-potongan gambar masa lalu yang muncul. Gambaran tempat di mana gue berada saat itu juga, di siang hari, waktu gue mendengar lagu itu untuk pertama kalinya. That's not it. Yang juga kembali adalah semua gambar yang ada dia di dalamnya.

Dan saat itu gue sadar, kalau gue benar-benar kembali ke masa itu. Seperti reka ulang kejadian. Tanpa ada banyak hal yang berubah.

Gila nggak sih? Tau kenapa gue bilang gila? Gue dibuat kembali ke masa lalu tapi semuanya dari faktor eksternal. Kedatangan gue ke tempat lama itu, dia, sikap sahabat-sahabat gue yang transformasi mundur, pemililhan lokasi, pemilihan lagunya. Bukan gue yang mengontrol. Seakan-akan alam semesta berkonspirasi untuk mencolek gue di pundak dari belakang, dan melempari gue dengan ratusan halaman 'itu', sambil berkata "Ingat ini?"

Gue sampai sekarang masih terus meyakini diri gue kalo semua perasaan gue yang muncul itu tadi cuma karena terbawa suasana. Gue harap sih. Karena gue tau halaman 'itu' udah lewat. Dan gue seharusnya nggak boleh kembali kesana lagi. Yang gue takutin itu kalau selama ini gue cuma bohongin diri gue sendiri. Yang gue takutin itu gue sebenarnya masih stuck di halaman 'itu' tanpa sadar.

Kau membuat aku terlalu...
Mengkhayalkan terlalu jauh...

You Might Also Like

0 voices

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE