Dari sisi manapun, ia sempurna.
Dari sudut manapun, ia lebih dari saya.

Semua yang tidak saya miliki, dia lahir dengan itu.

Kalau harus membayangkan sosok yang pantas untukmu,
sosok dia lah yang muncul.

Kalian serasi.

Serasi sekali.

P.S. Semoga kali ini jadian! :)

Where our eyes are never closing and time's forever frozen still.

Disela-sela kehectican dan keribetan tugas dan kerjaan yang menumpuk kaya lemak di badanmu,
gue menyempatkan menulis post ini...

Jadi suatu hari temen gue nanya, "Rin... Ajarin gue jatuh cinta bertahun-tahun dong!!"

Ohiya gue mungkin pernah menulis post yang mirip deh. Nah, orangnya itu sama persis. Ya dia lagi yang nanya.

Gue cuma bisa bereaksi "Haaah?" kaya video-video fluxcup.

"Gak salah, Mei?" tanya gue.

Kemudian dia menjelaskan alasannya. Gimana dia kagum ada orang yang bisa sayang sama orang sedalam itu, dan sebagainya. Kaya gimana perasaan yang dia alami selama ini tuh nggak ada apa-apanya dibanding perasaan kaya gini. Aduh jadi agak tersipu (?)

"Wahahah emang gue masih (suka sama dia), Mei?" tanya gue maksudnya ngisengin dia.


Gue cuma ngakak.

Heuheu. Heran aja gitu. Kok malah ingin merasakan seperti ini gitu.

Huf nggak tau aja ini tuh makan ati banget. Ah udah sering lah gue deskripsikan makan atinya gimana di blog ini. Ya ya salah gue juga sih. Tapi kan ya. Siapa yang bisa ngontrol perasaan sih. Ah.

Kadang sih rasanya ingin menyalahkan teknologi gitu.
Tapi seringnya sih menyalahkan diri sendiri.

Kalau waktu hari itu gue pulang cepat, nggak kesana, dan nggak liat dia saat itu, mungkin gue nggak akan begini kali ya?

Serem tau nggak, gimana satu tindakan sepele dampaknya bisa dahsyat sampai ke masa depan.


Ngomong-ngomong, ini ada gambar lucu :')

Ha..ha...ha... ha........... 


*peluk Cimut*

The classiest shit ever.

I've always been so fond of couple dances. I wish there were balls in my city where you can formally attend with your partner. Sigh. It would've been beautiful.

Everything about this is just beautiful. The dancing, the lyrics, the melody, the people...



Tapi motorik saya gak bagus :(

The realest real world I've been living.


Baru ditolak dua kali udah patah semangat.

Langsung kepikiran betapa mediocre-nya saya.


Dari dulu emang plain ya. Nggak pernah stand out. Nggak pernah jadi nomor 1. Selalu nomor 4.

Ini baru setengah jalan.

Gimana nanti?

Gimana nanti waktu harus menyokong hidup sendiri (dan orang sekitar)?

Mati. Suram banget bayanginnya.

Tapi orang lain kok bisa dapat dengan mudahnya.


Balik lagi.

Mediocre. AGGH. Mediocre Karin is so mediocre.


Padahal niatnya baik (?)


Bukan saatnya cengengesan ah.

Ah kesel. Sedih.


Mental tempe!

Kalau mau muluk-muluk:

Mau tinggal di Neverland aja, nggak mau jadi orang dewasa.


Ajari saya supaya bisa stand out dong.

What if I weren't such a kid?


Jujur dari hati
Kadang saya berpikir...

Ah bodoh juga ya saya.
Saat sadar yang dimiliki dulu begitu sempurna.
Sekarang hilang karena tingkah laku saya juga.


Kadang saya berpikir...
Hebat juga ya saya dulu bisa mendapatkan hal tersebut.
Kalau sekarang...
Mana mungkin bisa lagi?
Sumpah saya heran.
Kok bisa?
Mungkin karena dulu saya hanya seorang anak kecil yang polos.
Hanya anak kecil yang ingin memiliki yang diinginkan.
Hanya anak kecil yang belum tau artinya memiliki.
Hanya anak kecil yang tidak punya banyak pikiran dan pertimbangan.
Hanya anak kecil yang tau "Pokoknya aku suka ini."
Hanya anak kecil yang ingin ikut-ikutan orang dewasa.
Hanya anak kecil yang tidak tau caranya merawat kepemilikian.
Karena waktu itu memang saya cuma anak kecil.
Belum saatnya memiliki seperti itu.
Sampai sekarang saya kadang masih suka tertawa geli mengingatnya.

Kadang saya berpikir...
Kalau dulu bukan anak kecil, kalau dulu saya memiliki saat sudah lebih dewasa sedikit, sampai sekarang, apa saya masih tetap memilikinya ya?

Kadang saya berpikir...
Ah kok bodoh sih semudah itu menghilangkannya. Bodoh saya anak kecil yang bodoh.

Konyol aja gitu cara hilangnya.

Sepele aja gitu...

"If you love something, let it go. If it comes back, then it's meant to be yours..."

**Yah. Meskipun saya sudah skeptik tentang cinta, tapi sejujurnya, kadang saya masih berharap hal itu ada.**

Not that naïve anymore.

Once my friend said, "This is real world, Kar. Not some fantasy or some chick-flick movies."

I was laying in my bed thinking about what he meant. 

This came to a conclusion. 

Love doesn't exist. 

And by love I mean romance-love.

It's a myth. It's an illusion. It's a fantasy. It's a make-believe. It's a sugar-coated lie, made by human to make their lives more interesting. 

Because if it exists, then how do you explain failed marriages that become so popular these days? 

What's the point of marriage anyways? To tie some kind of bond between two people? But haven't they tied a bond already when they commit to their relationship in the first place? To breed? You CAN breed without having to say "I do" first. Really? Living up to moral standards? But even the norm in each country is really diversed. It doesn't make any sense. To prove your commitment to each other? Once again it CAN be done without marriage. To mark your spouse so they can't be shared with others? Well then ask one married couple that hasn't even once cheated on each other. Wedding rings can go off. Even most low-life mistresses don't even care if they are single or not. They said they love each other but that's what they do behind each other's back? 

Feelings fade. It's temporary. It's easily replaced. It's fake. It's painful. 

That's what you call 'love'? 

Sure there are stories about couples making it happen, loving forever. Are you sure it's a true story? Not some hundreds-word-long-bedtime-stories told from mouth to mouth? But even if it's real, how many couples have actually experienced it from this 7 billion population of people in this world?

My friend said, "You can never end up with someone you really love. Happy endings aren't for real world."

I was silenced. I didn't want to believe what he said. It crushed my whole idea of love. I opened my mouth as I tried to oppose his opinions. But no sound could  come out. My brain couldn't find the words. 

Because I couldn't find a relevant argument. I couldn't find the proofs. Ironically, even my whole life is a living proof of dysfunctional love.

Now I understand why I oftenly find myself crying when I watch some beautifully heart-warming romantic scene in the media.
Because maybe I was devastated, deep down inside I wonder how can this beautiful thing be so unreal?

"Love don't exist, when you live like this."

The Ways I Will Love You

I will love you like a magic 8-ball having all the predictable answers in the world. Not that I’m predictable, but I am constant. I’ll tell you ‘‘without a doubt’’, ‘‘It is certain’’, things that will boost you up and not make you question yourself. I will always be here and you will always hear from me. I will be the person you will run to for backup in your decisions. I won’t care, I’m here to support you — I’m your magic 8-ball.

I will love you like how the trees sway. No matter how much the wind howls, I will but sway. I will not be uprooted. I will stay here until you choose to get your saw and cut me down. But I’m a tree that’s even stronger than a Teak. You won’t be able to cut me down.

I will love you like a little girl loves candies, the kind that would brighten up anybody’s day. Give her candy when she needs an injection or when after a tooth’s been removed, and nothing will seem to have happened. Nothing will matter because now she has her candy. You are my candy. Nothing else matters.

I will love you like how Van Gogh paints, how long-separated lovers touch again, how King Henry gave everything up for Anne Boleyn, how Akeelah spells all the impossible words in the dictionary. I will love you passionately. I will love you perfectly. I will love you like it’s the only thing I know how to do.

I will love you in the truest, most unexplainable sense. I will love you in the darkness, I will love you in the light, and I will love you in the chasm that lies in between. Every single part of me will love every single part of you.

So let me and love me, too. Because I do not want these to be just dreams of how I will love you.



You again.

You see that? See how everytime I state "This whole crazy love thing, which has been going on for years, is enough. Leave it all behind.", mercury retrogrades?

I mean it's like, "Oh i can finally decide it's time to move on!" And then suddenly universe slaps me "OH NO YOU DI'INT!"

It doesn't happen once. It's happened so many times. 

What the hell, man? One minute I decide to walk away, and the next minute he comes suddenly in front of my door.


It's like it's never off the table between us.

But you have no idea how happy I get when our paths cross.

And I have a feeling our paths are gonna cross again someday.

My trump card.

Wouldn't trade these mofos for anything.

Quickie update nih. Jadi ceritanya, gue baru aja bikin sim! Pertama kalinya! Seumur hidup! Hahahhaha. Agak telat sih ya mungkin untuk anak seumuran gue. Hal ini gue sadari karena saking banyaknya teman2 gue yg nanya ke gue "Kalo Karin, kapan bikin sim nya?" Huf. Serasa anak bawang... Setelah ribet sana sini akhirnya bikin juga gue. 

Gue seneng banget dong pas akhirnya sim gue jadi! Karena akhirnya gue bukan anak bawang lagi. Gue langsung laporan lah ke semua temen deket gue. 

Tapi reaksinya beragam... Semacam ini:


Lalu makin lama makin absurd...


Makin makin...

Makin makin makin...

Kurang ajar.....

Mereka emang paling...

Huff paling lah pokoknya.

P.S Di foto terakhir yg diblur itu nama life-long crush saya. Sigh.

This is not some silver screen romance.

Nama saya Phang, saya pertama kali melihat istri saya pada waktu saya masih 18 tahun. Ayah saya pejuang yang berpindah-pindah tugas sejak perang Indocina di Kamboja tahun 1950-an, pada akhir 1970-an kami sekeluarga ditempatkan di Siem Reap di mana saya satu kampung dengan Yin, istri saya. Saya tidak pernah kenal dengan dia walau satu kampung, tetapi saya sering melihatnya sore-sore di depan rumah. Dia waktu itu masih berusia 10 tahun, delapan tahun lebih muda dari saya.

Setelah itu saya tidak pernah melihatnya lagi karena keluarga saya pindah ke kota lain, dan pindah lagi, dan pindah lagi. Sebelum pindah dari Siem Reap, tetangga-tetangga sempat memanggil juru foto dan mengajak keluarga saya foto bersama, foto itu selalu dibawa oleh ayah saya dan ditaruh di ruang tamu setiap kali kami pindah rumah. Dari foto itulah saya selalu ingat Yin, wanita cilik bermuka pucat yang teduh matanya. Dia terlihat kurus di foto itu dengan rambutnya yang dipotong cepak karena kutuan.

Di usia saya menjelang 30 tahun saya bekerja sebagai tukang pos. Tugas saya mengantar surat setiap hari di utara kota Phnom Penh. Saya tergolong pekerja keras tetapi suatu pagi, di saat hujan deras sekali, saya malas keluar rumah. Ayah saya berkata saat itu :

"Kamu tidak pernah tahu apa isi tumpukan surat itu. Mungkin ada kabar sukacita, mungkin ada duka, mungkin ada juga yang tidak dapat ditunda sehari pun."

Kalimat itu membangunkan saya, akhirnya saya putuskan jalan dan mengantar semua surat-surat itu di tengah hujan deras dan gemuruh guntur. Surat terakhir yang saya kirim hari itu masih disertai hujan, padahal hari sudah sore jam 3-an. Saya basah kuyub tetapi hati saya lega. Saat keluar dari kantor itu setelah mengirim suratnya, sekelibat saya melihat di balik jendela ada wajah yang saya kenal. Yin! Dia sudah berubah, rambutnya panjang sebahu, badannya gemukan, pakai kaca mata tetapi saya masih mengenalinya. Saya ingin menyapanya tapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Setelah beberapa lama saya memutuskan untuk pulang tanpa bilang halo.

Semalaman saya teringat dia, tetapi saya masih tetap tidak tahu bagaimana cara menyapanya. Saya berpikir terlalu lama sehingga baru seminggu kemudian saya punya cara menyapa Yin. Saya datang ke kantor itu lagi dan saya berpikir untuk minta ijin menemui Yin. Tetapi... saya terlambat! Ternyata Yin tidak lagi bekerja di situ, hari saya melihat dia adalah hari terakhir dia di sana. Yin keluar karena dia harus ikut keluarganya pindah ke Hanoi, Vietnam, karena ayahnya mendapat tugas di sana.

Saya sangat kecewa dan menyesal.

Beberapa tahun kemudian saya diterima kerja di sebuah perusahaan logistik, saya mendapat posisi bagus sebagai manager yang mengurusi pengiriman barang dari satu kota ke kota lain. Saat itu saya memiliki seorang kekasih dan punya rencana untuk menikah. Kemudian suatu pagi ketika saya bertugas di Siem Reap, saya tidak sengaja berpapasan dengan Yin di sebuah gedung pemerintah. Saya kaget dan tertegun melihat dia, dan saya rasa dia pun demikian. Bodohnya, saya tidak menyapanya! Saya ragu-ragu karena saya bersama seorang relasi dan dia bersama beberapa orang teman.

Pertemuan singkat itu benar-benar membuat saya bergejolak! Saya bertanya-tanya apakah dia mengenali saya? Apakah dia ingat saya? Saya membodoh-bodohkan diri saya, mengapa saya tidak menyapanya! Tetapi saya juga berusaha menghibur diri, itu tadi bukan Yin, Yin kan sudah pindah ke Vietnam. Pikiran tentang Yin tidak pernah hilang. Saya sempat ceritakan ke kekasih saya dan dia berang karena cemburu.

Beberapa bulan setelah kejadian itu saya mendapat masalah mendadak dan harus pergi ke Siem Reap. Di tengah kekalutan pekerjaan, saya sedang berjalan di sisi jalan ketika melihat Yin di jendela sebuah bis jurusan luar kota. Saya melihatnya dan melambai-lambaikan tangan. Dia pun melambaikan tangan seperti mengenal saya. Saya berusaha mengejarnya tetapi bis itu terlalu cepat pergi dan saya kehilangan kesempatan bertemu dia. Kejadian itu sungguh membuat hati saya bergetar, saya merasa saya jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta.

Gara-gara peristiwa itu saya memutuskan hubungan dengan kekasih saya, saya merasa tidak bisa menikah dengannya selama saya masih terus memikirkan Yin. Tidak adil buat dia. Orang tua saya sangat kecewa dengan sikap saya dan menganggap saya membuang kesempatan terbaik di dalam hidup saya.

Sepuluh tahun berlalu, saya tidak pernah melihat Yin. Setiap hari ingatan saya akan dia membuat hati saya tertutup untuk orang lain. Usia saya sudah 40 tahun lebih dan semua orang mengira saya tidak menikah karena saya patah hati ditinggal kekasih saya dulu. Mereka tidak ada yang tahu kalau di hati saya cuma ada Yin. Sering saya mencoba mencari Yin, dari buku telepon sampai saya datangi kampung saya dulu untuk tanya di mana keberadaan keluarga Yin. Ada yang bilang pindah ke Hanoi, ada yang bilang di Phnom Penh, semua serba simpang siur.

Di ulang tahun saya yang ke 48, saya melihat iklan baris di surat kabar. Ada seorang Yin mencari surat-surat yang hilang dan meminta yang menemukannya untuk mengirimkan ke Hanoi dan akan diberi imbalan. Saya tidak berpikir panjang, ini pasti Yin saya! Saya berangkat ke Hanoi beberapa hari kemudian dan menemui Yin. Sayangnya dia bukan Yin yang saya cari. Yin lain, bukan Yin saya. Teman-teman saya sudah menasihati lebih baik telepon dulu sebelum berangkat tetapi saya tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan di telepon dan saya terlalu yakin kalau itu pasti Yin yang saya cari. Surat kabar itu sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenang-kenangan.

Tetapi semua itu tidak sia-sia. Dari ide iklan baris itu, saya memasang iklan di koran Hanoi : iklan saya singkat : Yin yang dari Siem Reap, hubungi Phang. Saya memasang iklan itu 3 kali tetapi tidak ada orang yang menghubungi saya. Kali yang keempat, saya memutuskan untuk mencoba pasang iklan di koran Phnom Penh, tidak lagi di Hanoi. Dalam perjalanan ke agen iklan saya dikejutkan oleh Yin. Saya ketemu dia di jalan! Dia keluar dari taxi yang hendak saya tumpangi.

"Yin, ini aku! Kamu tahu siapa aku?" begitu kata-kata saya pertama kali.

Jodoh di tangan Tuhan, ternyata Yin sangat mengenal saya. Bahkan di pertemuan saat itu, dia mengeluarkan foto dari masa kecil kami, foto dengan para tetangga di Siem Reap. Dia sudah jatuh cinta dengan saya sejak dia masih 10 tahun. Katanya dia sering melihat saya tetapi takut untuk menyapa karena dia masih kecil dan saya terlihat sangat dewasa. Dan yang lebih menggembirakan lagi, ia belum menikah!

Pertemuan itu adalah awal hubungan percintaan kami. Ternyata Yin selama itu tinggal di Hanoi, meski pernah ia pernah bertugas beberapa bulan di Siem Reap. Dia bekerja di perusahaan Vietnam yang punya cabang di Kamboja. Karena itu kami bertemu setiap beberapa bulan sekali dan merencanakan untuk segera menikah.

Tetapi perjalanan kasih kami tidak mulus, ayah Yin harus menjalani transplantasi jantung dan harus dibawa ke Canada. Yin harus pindah ke sana bersama-sama dengan keluarganya dan kami hanya bisa berhubungan lewat email dan chat. Lima tahun Yin di sana sampai ayahnya meninggal, kemudian balik ke Hanoi. Hanya sekali saya mengunjunginya di Toronto, Canada, itupun dengan menghabiskan semua tabungan yang saya kumpulkan bertahun-tahun. Sebenarnya saya ingin segera menikahinya tetapi keluarga Yin belum mengijinkan kami karena ayahnya yang sedang sakit. Mereka percaya bahwa tidak tepat menikah di saat salah satu anggota keluarga dekat sakit keras.

Sepulang Yin dari Toronto, usia saya sudah 55 tahun. Saya tidak berpikir panjang, saya akan segera menikahinya. Sekali lagi perjalanan kasih kami tidak mulus, dalam perjalanan ke Hanoi untuk melamar Yin dengan kedua orang tua saya, ayah saya terkena stroke dan meninggal di perjalanan. Kami sangat terpukul dengan kejadian itu, dan lebih-lebih beberapa bulan kemudian ibu saya menyusul ayah. Ayah saya meninggal di bulan Desember, ibu menyusul beberapa bulan kemudian di bulan Maret. Praktis tahun itu kami tidak bisa menikah karena kepercayaan yang tidak menyarankan pernikahan di tahun yang sama dengan kematian orang tua.

Usia saya 57 tahun ketika saya menikahi Yin. Dia masih muda, belum 50 tahun, terpaut 8 tahun dibanding saya. Sejak hari itu, kami seperti pangeran dan putri karangan HC Andersen, live happily ever after. Saya sangat mencintainya, setiap hari seperti pacaran tanpa ada habisnya, inilah true love, cinta sejati kami. Puluhan tahun kami jatuh cinta tapi tidak bisa sama-sama. Kami selalu terkenang dengan semua kisah hidup kami Sering kami masih komunikasi menggunakan email dan chat, karena Yin sedang di kamar mandi dan Phang di meja makan.


HAPPY 2014 EVERYBODY! New year. New you!

Meh. Gue sih bukan penganut motto itu.

May this year be better than the past ones.

Post pertama harus cerita tentang penamparan nih. Uh. Jadi gini ceritanya. Waktu itu, gue lagi makan malam sama temen gue. Oknum M. Yaudah Meike. Tuh gue sebut namanya. Ngomong apa sih gue. Ya. Pokoknya gitu.

Kita lagi ngobrol tentang banyak hal kan. Tentang ini itu, life, love, bullshit. Lalu Meike bilang gini,

"Rin, kadang-kadang gue pengen deh jadi orang yang kayak lo."

"Hm? Kayak gue gimana maksudnya, Mei?"

"Yang bisa suka sama orang lamaaaa banget sampe hitungan tahun. Yang bisa nyimpen perasaan lama banget."

Gue langsung agak mengernyitkan dahi. Heran banget dengarnya. Karena dia selama ini salah satu dari sekian temen deket gue yang selalu neriakin gue untuk, "MOVE ON RIINN!!"

"Haah??? Hahhaahaha nggak salah? Bukannya selama ini justru orang-orang anggap kayak gini itu nggak bagus?" tanya gue.

"Iya sih... Cuma. Uhh gimana ya. Biasanya, kalau di film, orang-orang kayak lo yang selama ini selalu nunggu, itu akhirnya tuh justru bisa dapetin dia. Orang kayak lo yang akhirnya bisa akhirnya dapetin dia dan kayak true love gitu loh."

Gue nggak tahan untuk nggak senyum. Senyum najis senyum sumringah. Senyum mesem-mesem. Dan langsung kebayang happy ending gue di mana gue akhirnya bisa ketemu dia dan suatu hari dan ternyata dengan ajaibnya dia selama ini juga notice gue. HAHA jiji.

"AAAAWWWW" gue langsung spontan mengeluarkan bunyi itu.

"Tapi ini hidup nyata, Rin. Ini bukan film."

Shiiush. Gue langsung membenturkan kepala gue ke meja.

Kayak langsung dijatuhin. Makasih loh, Mei. Dan saya pun kembali menghela nafas yang panjang.

Popular Posts