Fatuus


Infatuation.

Short-lived but intense.

Unreasoned.

Sedangkan dari kata Latin sendiri, kata itu artinya, 

'menjadi bodoh'.

Jadi pada dasarnya, kita menjadi bodoh.

Dua orang yang sama-sama menjadi bodoh karena tidak sengaja menemukan satu sama lain.

hEHe. 

Resolusi 2016: Menjadi pintar lagi...











...bersama. :)

Onion Metaphor


Pernah mendengar Teori Penetrasi Sosial? Teori yang dibuat oleh Altman dan Taylor. Mereka menganalogikan manusia sebagai bawang bombay. Manusia seperti punya lapisan-lapisan kepribadian yang berbeda-beda.

Dan saya bisa merasakan kamu sedang berusaha mengupas saya...


...sangat-sangat dalam.


Huhu. 

Dan sekeras apapun saya berusaha, sekeras apapun saya memasang perisai pelindung saya,

Bukannya mematahkan semangat, tapi justru membuat kamu tambah gencar membombardir sistem perlundungan saya...


HALP ME.

-----------------

"Altman and Taylor believe that only through opening one's self to the main route to social penetration-self-disclosure-by becoming vulnerable to another person can a close relationship develop."






TIDAK SAYA TIDAK MAU JADI VULNERABLE LAGI KARENA MENJADI VULNERABLE SANGAT SANGAT SUCKS.

my dear, lucky charm.


Iya. Kau.
Yang setiap hari mencari saya.
Yang setiap hari, diam-diam, saya tunggu kehadirannya.
Yang selalu berhasil membuat saya tersenyum seperti orang bodoh di mata orang lain.
Yang terkadang sangat menyebalkan.
Yang terkadang juga sangat mengagumkan.
Yang betah sekali berbicara hal-hal tidak penting belasan jam dan memecahkan rekor kita masing-masing.

Kau.
Dan buaian manis mu.

HUEEH.

Buaian yang sampai sekarang,
entah kenapa,
mudah sekali terucap.

Bohong kalau saya tidak merasa senang.
Bohong kalau saya bilang tidak sebersit pun kata-kata itu melintas di kepala saya.
Bohong kalau saya bilang saya tidak terbuai.
Bohong kalau saya tidak mempercayai sepatah katapun yang kau ucapkan.


...


Tapi sayangnya saya masih meragukanmu.

Yakinkan saya, ya?

Modern Fairytale?


Mmm... Coba jelaskan lagi,

Bagaimana kita menemukan satu sama lain waktu itu?

Sekarang pun kalau saya pikir lagi, "Ini gila sih." Walaupun hal ini sudah sering terjadi pada orang lain di luar sana, sejak maraknya teknologi super canggih itu diciptakan.

Iya ini gila. Segala hal tentang kita itu gila. Pertemuan kita. Interaksi kita. Diri saya di matamu. Diri mu di mata saya. Aneh. 

Entah apa yang kau pikirkan. Entah apa yang saya pikirkan. Yang jelas saya tidak pernah membayangkan yang seperti ini.

Terlebih ketika kau ternyata pribadi yang sangat menarik dan familiar. Terlebih ketika segala hal tentang dirimu menjadi mudah. Sangat mudah.

Kecuali satu hal terkutuk itu. Satu-satunya yang sulit dan tidak bisa dipungkiri. 

Meskipun pasti untuk sebagian besar yang mendengar, menganggap ini begitu impulsif dan cepat, konyol dan tidak lazim. Meskipun saya kadang pun berpikir seperti itu. Meskipun mungkin kau berpikir seperti itu.

Intinya, saya senang kamu hadir. 

Entah ke mana akhir ceritanya nanti. Baik atau buruk, it's been nice knowing you. :)

:)


Entah kenapa, sejak dahulu, dipuji 'pandai' itu rasanya lebih menyenangkan.

Terima kasih ☺️

The Leonid Meteors


Waktu dulu saya pernah berikrar, "Ah yang mati ini cukup. Saya sudah content dengan ini." Karena lelah dengan yang hidup yang nggak bisa 100% dipercaya atau diandalkan. Karena lelah dengan yang hidup tidak menjamin bahagia.

Sampai tiba-tiba, ada yg hidup datang...

Ah.

Awalnya saya hanya ladeni sebagai formalitas dan keisengan remaja. Tapi kelamaan, kok... Hmm mulai putar setir.

Dari detik pertanyaan mengesalkan itu terlontar, buat saya goyah.

Ewh dasar lemah.

Lalu jadi agak murung kalau tidak selancar sebelumnya. Murung kalau yang hidup tidak memunculkan batang hidungnya. Yang mati... Tidak terlalu mengubah jadi riang. 

Ewh paansih.

Lalu saat sok tegar pura-pura jadi batu, yang hidup datang lagi. Saat itu juga langsung melompat, riang. 

EEWH???

Lalu untuk kali pertama, saya yang punya inisiatif. Yang hidup masih berkeliaran. Lancar... Mulus... Kok saya mulai terbiasa? Yang hidup semakin gencar. Gawat.

Perlahan-lahan yang mati semakin jarang saya acuhkan... Perlahan-lahan yang mati tidak saya acuhkan. Perlahan-lahan hasrat saya untuk yang mati... Semakin memudar.

Sejak kapan saya lebih suka yang hidup...? 

Berhenti ayo berhenti sebelum terlambat. Ingat ayo ingat, ini hanya meteor yang lewat. Camkan, kau itu manusia yang tidak bisa mengendalikan meteor yang berhujanan. Dia hanya akan jatuh di tempat jauh, dan tidak untuk kau tangkap dengan tangan kecil konyolmu.  

Atau teruskan tapi tetaplah sekuat batu. Jadilah batu.

Get well soon


Again, i admit how such a loser i'm being. Again, i'm gonna use the abscence of my nerves as my excuse for not saying this in front of you.

I really hope you're alright.

And did you know not saying this brought you into my dream (AGAIN) last night? It's one of those times all over again. 

"Suck it and see,
you never know.
Sit next to me,
before I go...

Blue moon girls from once upon a Shangri-La

How I often wonder where you are

You have got that face that just says
"Baby, I was made to break your heart""

damn these awful traits i have



Do you know what it feels like to not be able to look into other people's eyes? That's exactly why I always avoid eye contacts at all possible times.

Do you know what it feels like to not have any idea how to talk to someone even though you really really want to? Do you know what it feels like to be really shitty at small talks? That's exactly why some people find me really quiet sometimes.

Do you know what it feels like to be uncomfortable in the crowd? Even worse, when you have to be on stage in front of many people.





Do you even have that anxiety EVERYTIME you have to talk to someone new? Even worse when you have to initiate the talk for the first time.

I swear I've felt this way for as long as I can remember. Even since I was a little kid. All my life.

You don't have any idea how hard it is.





I know I'm not a psychology expert per se but I'm pretty sure this is all because of my introvert blood... and I find it EXTREMELY annoying sometimes. It sucks.

Bersua lagi

Hai. Lama tidak bersua. Jadi maaf ya blogspot. Kamu jadi terlantar beberapa bulan ini. Konon karena aktivitas blog saya pindah ke situs 'tetangga'. Benar. Situs sakral terlarang dan candu. Situs yang membuat penggunanya bisa jatuh terlalu dalam. Hii bahaya. Bukan. Bukan situs porno (walaupun beberapa memanfaatkannya untuk itu TAPI SUMPAH BUKAN SAYA). Tidak lain tidak bukan adalah situs fandom terbesar sejagat raya. Tebak sendiri namanya. Kalau minat, silahkan intip kalau bisa menemukan. Tapi banyak hal-hal tidak terkontrol dan penuh dengan racauan seorang shipping trash. Hah. You've been warned. Anyways, mari kita coba catch up.

Agustus 2015
Jadi, ceritanya awalnya saya sedang menonton-nonton video-video dari San Diego Comic Con (SDCC) 2015. Salah satu event paling majestic di mata saya yang dari dulu saya impikan. Lalu tiba-tiba panel dari TV Series favorit saya muncul. UGH. Banyak sekali yang terjadi. Lalu mendorong saya untuk buka situs fandom tersebut. Sampai akhirnya saya candu situs itu lagi...


Singkat kata, saya jatuh cinta pada cinta orang lain. 

HAEH. Kurang paham? Kalau begitu mungkin Anda tidak akan bisa paham. Huf~

Ya mungkin saya seharusnya tidak bahas ini di sini. Karena audiens di sini tidak se-open minded di situs tetangga. Oopsiedaisies. Ma bad.

––––––––––

Saya waktu itu sedang ribet dihantui oleh monster mimpi buruk setiap mahasiswa tingkat atas; SKRIPSI-TA. Kadang saya berpikir, apa saya terlalu impulsif untuk memilih ambil jalur kelam itu dulu ketimbang jalur magang. Tapi karena beberapa alasan dan efisiensi performa, sepertinya keputusan ini keputusan yang benar... Sepertinya. Yah... Kalau mau terus mengikuti rasa 'tidak siap', akan 'tidak siap' terus sampai kapanpun kan? Jadi saya memutuskan untuk menumbuhkan a pair of balls (figuratively, not literally), dan hadapi aja. Pasti bisa. 

––––––––––

Di tengah bulan, yang seharusnya bisa jadi hari terbaik tahun 2015, tiba-tiba malah mendengar kabar buruk menyebalkan dan tidak masuk akal. Band yang waktu itu saya tangisi, ketika saya kali ini akhirnya benar-benar punya kesempatan untuk menontonnya dan membeli tiketnya, tiba-tiba batal datang... Kemarahan 5 tahun lalu terulang lagi. Tapi entah kali ini sampai nggak sanggup menangis. Kalau bukan shit happens, saya nggak tau harus menyebut ini apa. Tahi.

––––––––––

Liburan saya, selain diisi dengan mengurus situs sakral tersebut tentu saja, seringnya diisi dengan bertemu sahabat-sahabat. Ada yang selama ini bertemu terus tapi sudah harus pergi ke negara lain. Ada yang selama ini di negara lain tapi sedang pulang ke negara asalnya. Ada juga yang... Selalu di sini. Sahabat yang mungkin kalau orang awam lihat, itu lagi itu lagi. Sahabat yang mungkin kalau orang awam lihat, sepertinya cuma mereka yang saya punya. Tebak apa? Memang kok. Saya memang cuma punya mereka. Segelintir orang-orang dengan selera humor aneh. Sekelumit orang-orang yang secara pribadi beragam, tapi anehnya, cocok satu sama lain. Tapi saya cuma suka mereka. Hell, sayang bahkan. Saya lebih bahagia bersama mereka, ketimbang di keramaian di antara orang-orang...'asing'.

––––––––––

Tapi di sela-sela pertemuan, pasti selalu ada satu topik 'krusial' tak terhindarkan.
"Kapan?"
"Kenapa?"
"Apa?"
"Masa benar-benar...?"
"Ini salah diri sendiri!"
Dan seterusnya. Temans, sejujurnya... Saya sudah tidak peduli lagi tentang itu. Entah kenapa. Bahkan kalau dipikir, malah lebih enak begini. Saya nggak pernah bilang ini ke kalian, karena takut kalian pasti malah menganggap saya ber-BS-ria. Hm kapan kalau kalian memberi saya kesempatan tanpa menganggap saya BS, coba saya jelaskan dari sudut pandang saya.

––––––––––

Suatu hari, salah satu sahabat saya bercerita tentang masalahnya. Tentang bagaimana ia menyesal memilih tempat yang 'kurang dikenal'. Tentang bagaimana ia melihat teman-temannya bisa menyombongkan diri dengan memamerkan tempat yang 'lebih terkenal' di media sosial. Saya cuma jawab, "Bukankah sesuatu yg bagus, setidaknya kau menemukan tempat, daripada tidak sama sekali?Sepenting itukah memamerkan di media sosial? Lalu apa yang didapat dari itu? Kekaguman sementara? Lalu saat semua tren ini berakhir, apa yang terjadi? Kembali berkompetisi tentang siapa yang lebih di antara yang lain di bidang lain? Lalu saat akhirnya keluar dan berpisah ke jalan masing-masing, apa yang terjadi? Tidak ada. Mereka tidak akan lagi membahas apa yang pernah dipamerkan dan apa yang tidak bisa dipamerkan. They'll move on. We'll all move on. Percayalah, tidak ada orang yang sepeduli itu terhadap hidup orang lain. Mereka hanya peduli pada hidupnya sendiri."

––––––––––

September 2015
Kembali ke pinggiran kota untuk menuntut toga lagi. Semua menyenangkan ketika kembali ke kamar pribadi, ke ruang isolasi, ke kebebasan. Kemudian monster mimpi buruk itu...terlihat sepuluh kali lebih menakutkan. ARGH. Ayo. PASTI TETAP BISA.

––––––––––

Gadget-gadget saya akhir-akhir ini bermasalah... Speaker jadi sumbang. Charger HP rusak LAGI. Harddisk nggak menyanggupi untuk back up sampai akhirnya bahkan tidak terbaca sama sekali. Ada apa ini. Mengerikan. Cintaku, jangan menyerah pada ku.

––––––––––

Aneh ya ada orang mudah sekali jatuh cinta? Memangnya semudah itu ya? Mungkin semudah itu juga ya hilangnya? Ah namanya juga cinta hormon. Ew.

Social media these days...



Negara mana yang dilegalkan, yang ribut marah-marah malah yang mana. Siapa yang menikah, malah pihak yang nggak berurusan yang nggak merestui. This is not a new issue. They've been fighting for 40 years and they finally get what they want. So stop. They clearly don't share the same belief and it's never gonna happen whether you preach with all the passages you know or not.

Ada juga yang mendukung tapi entah mungkin menganggap itu hal yang cool. Kemudian karena sedang naik daun, ikutan berubah orientasi juga. Hey, it's not a trend. This is a serious issue, and people were tortured and bullied because of this. 

Ada juga yang ingin orientasi seksualnya disetarakan seperti negara liberal itu, tapi mintanya di negara yang konservatif begini. 100 years too soon, people. Agama dan ras saja belum 'setara'.

Sudahlah... 

Shut up.

Mind your own business! Kalian nggak lelah apa? Saya aja lelah lihat kalian. 

Hi trump card.


I'm not gonna sit here and type about how weak I am...

Atau tentang bagimana kamu tidak pernah benar-benar hilang dari hidup saya. Atau pun tentang bagaimana simbol yang menandakan senyuman itu sangat saya anggap serius dan membuat saya tersenyum lebih lebar dari senyuman Joker. Mungkin saya PMS (?) Atau pun tentang bagaimana ini sudah terjadi puluhan kali, hell, ratusan bahkan.

Lebih lagi, bukan tentang bagaimana ternyata saya belum bisa melepaskan yang lalu.

Ini tentang khayalan-khayalan babu menggelikan yang merindu pertemuan sederhana denganmu. 

Ah.

Selamat ulang tahun. Maaf terlambat. Dan maafkan saya yang nggak punya nyali untuk menyampaikannya langsung. 

:)

Rules of Attraction



It's not a movie for everyone. It's not for people who are easily offended about sex and drugs. I'm making sure I've sent out warnings in advance. Sure there's a few scene I'd prefer not to watch. But, it's got a hold on my heart somehow. It's definitely a movie of how the world works. I like how this movie captures how reality and truth are. I like how the movie shows no one ever likes the right person. It's cinematically pleasing. Nice work, Avary.



It's easier this way.


Waktu itu agak jadi kepikiran setelah saya di-'interogasi' oleh salah seorang teman yang baru saya kenal. Sifatnya memang memiliki rasa ingin tau yang besar, dan kebetulan saya salah satu pribadi yang paling menggelitik rasa penasarannya. Banyak rentetan pertanyaan yang dia lontarkan untuk saya. Beberapa di antaranya lumayan membuat saya tertegun dan berpikir ulang...

"Orang yang seperti apa yang lu suka?"
"Orang seperti apa yang lu tidak suka?"
"Orang seperti apa yang bisa masuk ke lingkaran sahabat lu?"
"Sahabat lu orang-orang yang seperti apa? Apa yang membuat lu begitu mantap menyebut mereka 'sahabat'? Karena jujur gue belum pernah menemukan orang yang bisa gue sebut sahabat"

Wah seru sekali sih ngobrol sama dia. Walaupun saya agak sadar saat itu sebetulnya dia sedang 'menguliti' saya, lapisan per lapisan.

Masa bodoh lah hahaha anggap saja dia seorang terapis untuk sesaat.

Kemudian seorang temannya yang melihat dia – ketika lagi tercengang-cengang mendengar jawaban-jawaban saya –  kemudian menyeletuk,

"Nggak semua orang sama laah..."

Hm dan saya juga jadi berpikir beberapa hari kemudian. Iya ya. Benar juga.

Nggak semua orang sama. Ada yang ekstrovert. Ada yang introvert. Ada yang hiperaktif. Ada yang sangat pasif. Ada yang oversensitive. Ada yang highly callous. Ada yang gullible. Ada yang sangat suspicious. Ada yang easy going. Ada yang reserved.

Some fit the others. Some just don't. 

Memang sih. Manusia itu aneh. Dia bisa memilih sebagian dari sekitar 7 milyar kepala di bumi ini dan berkata "Hey sepertinya aku suka yang ini."

Bagaimana kau bisa menentukan apakah kau cocok atau tidak dengan orang lain? Itu pertanyaan yang dilontarkannya yang lumayan membuat saya memutar otak. Sampai saya akhirnya sadar...

Menurut saya kecocokan itu sesuatu yang dirasakan. Bukan dipikirkan. Bukan berdasarkan bulleted list panjang mengenai definisi 'ideal' yang ada di dalam otak. Bukan juga berdasarkan kesamaan sifat.

Biasanya hanya karena memang tidak terasa cocok.

Sesederhana itu.

Sesederhana berusaha melengkapi puzzle dengan potongan yang salah. Lubang lingkaran tidak bisa diisi kotak. Lubang kotak juga tidak bisa diisi lingkaran.

Apakah itu salah si lingkaran yang berbentuk bulat atau salah si kotak yang bentuknya memiliki sisi-sisi tegak lurus? Bukan salah keduanya. Yang salah hanya orang yang memaksakan memasang bentuk-bentuk tersebut, tidak pada tempatnya.

Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan. Terkadang ada yang lebih baik tidak disatukan. Demi kebaikan semua pihak.

Untuk Memperluas Beberapa Pikiran di Luar Sana


"Iiiih! Dandan! Genit deh!"
"Cie make up-an. Mau ketemu siapa emang?"
"Lebay amat sih ke *** aja dandan begitu. Nggak ada yang liat juga."
"Make-up-nya menipu publik banget."

Untuk beberapa kaum hawa pasti pernah dengar komentar-komentar semacam itu, baik dari laki-laki maupun sesama perempuan. Entah mungkin saya yang terlalu sensitif karena sedang menjadi monster Karin di masa PMS-nya... Tapi saya mulai muak dan yang saya heran...

Kenapa orang-orang itu selalu menganggap ketika perempuan berdandan itu untuk menarik perhatian lelaki?

Seakan-akan segala hal yang dilakukan perempuan itu semata-mata untuk tujuan pemuasan mata laki-laki atau cinta-cintaan saja? Seakan-akan semua hal di dunia ini berpusat pada mating purpose semata?

Sesempit itukah pikiran kalian?

Pernah nggak terbersit di otak kalian kalau tidak semua orang punya tingkat kepercayaan diri atau self-esteem yang tinggi? Sadarkah kalian kalau memiliki sifat insecure itu adalah sifat yang manusiawi?

Pernah terbersitkah kalau mungkin memakai make-up membuat sebagian perempuan feel better about themselves? Pernah terbersitkah kalau mungkin memakai make-up membuat beberapa perempuan memang merasa bahagia? Bukankah sudah menjadi hak setiap orang untuk merasa bahagia? Dan kalian pikir, kalian siapa seenaknya mengganggu hak orang lain?

Dan salahkah ketika seseorang berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya agar menjadi lebih baik? Ada dampak merugikan apa yang terjadi pada kalian ketika seseorang melakukan hal tersebut?

Bukan untuk menarik perhatian, apalagi untuk menipu, melainkan untuk memuaskan diri sendiri.

Mengherankan kira-kira alasan apa yang membuat saya menulis post seperti ini? Saya sendiri tidak menyebut diri saya make-up junkie atau sejenisnya. Saya hanya terkadang memakai make-up di saat-saat tertentu yang saya inginkan saja. Saya sendiri juga tidak pernah menyebut diri saya seorang feminist meskipun hal-hal yang saya tulis di post ini terdengar seperti sesuatu yang ditulis oleh seorang feminist.

Alasannya sesederhana ini: Karena di negara ini terlalu banyak orang-orang stuck-up berpikiran sempit yang sangat senang mencibiri dan mengurusi hidup orang lain, ketimbang memperbaiki hidup mereka sendiri yang jelas-jelas tidak lebih baik.

"You are a strong and independent woman. You should never let others control your happiness."


"Sometimes I think,

Girls like us, who are below the beauty standards, are mentally stronger than the pretty ones.

No. Seriously. Face it. They have it easier. I'm not just talking about the dating parts. But in life.

The world loves them!

They'll never understand what we've gone through no matter how you explain.

So yeah. You should be proud for being so strong."


BS lah yang berkata sebaliknya. 

two of those life mysteries


Isn't it funny, sometimes, once you know someone for the first time, you'll start to see them anywhere you go, when in fact, you feel like you had never seen them anywhere before you actually knew them?









It is so weird to be a realist AND a hopeless romantic at the same time. Alasan saya tiba-tiba terpikir seperti itu? Cuma karena salah seorang teman saya dengan random-nya bertanya di kelas diam-diam:


"Do you believe in love?"

Dalam diam.

"Setiap manusia dilahirkan baper. Jadi yaudah apa salahnya?" –Udun

Gimana ya? Saya juga kalau bisa milih untuk nggak punya perasaan, ya mau aja sih. Cuma nyatanya kan nggak bisa?

Kayanya hidup jauh lebih mudah loh di saat saya nggak punya perasaan sama sekali.

Saya juga nggak suka loh seperti ini. Perasaan tuh emang cuma bikin lemah.

--------------------------------------------------

Maaf kalau saya dikira berubah.
Maaf deh kalau ternyata saya bukan seperti yang dipikirkan. 
Tapi ini saya...

--------------------------------------------------

Pergi ke mana hidup ku yang sederhana? Aku rindu kamu.

-------------------------------------------------

Selama ini jadi cuma saya aja...

Yah...

Sudah biasa.

-------------------------------------------------

"I need a break from
my brain,
my heart, 
my life.
I need to go away for just a little while.

Or maybe just for forever."

--------------------------------------------------


Diskusi Sabtu Sore


Kemarin tumben pembicaraan kami berbobot sedikit. Alih-alih, meluapkan perasaan dan menceritakan ulang kejadian yang dialami, kami justru mendiskusikan banyak hal.

Ketika lelah berdebat panjang, akhirnya sampai pada satu kesimpulan.

Jatuh cinta hanya karena fisik seseorang, tidak akan cukup dan terkesan rendah. "You fell in love with my flower but not with my roots. So then, when autumn arrived, you didn't know what to do."

Jatuh cinta karena momen-momen tertentu, kuat, namun juga masih tidak cukup. Untuk sesaat, kalian bisa berpikir, "Ini pasti berarti sesuatu kan? Somehow, semesta berkonspirasi agar aku dan dia bertemu, mengalami kejadian itu, and everything feels right? Takdirkah?" Pernah mendengar istilah alternate universe? Bagaimana jika dia, yang jatuh cinta ketika mengalami momen dengan kalian, di suatu alternate universe mengalami momen yang sama persis seperti apa yang kalian berdua alami, namun dialaminya dengan orang lain? Apakah dia juga akan jatuh cinta dengan orang lain itu? Mendadak tidak lagi merasa spesial? Mendadak menganggap ini cuma permainan semesta? Ha! "Setidaknya ketika seseorang jatuh cinta pada X karena fisik, memang karena cuma X yang memiliki fisik seperti itu." Kemudian disahut dengan bagaimana di dunia ini setiap manusia punya 7 orang berwajah mirip dengannya, terpisah di belahan dunia lain, etc etc etc.

Jatuh cinta karena kepribadiannya, seringkali dianggap jadi alasan paling relevan dan 'mulia'. Padahal sifat dan kepribadian seseorang bisa berubah. Coba, sifat-sifat yang kalian miliki sekarang, apakah sama persis seperti yang kalian miliki 10 tahun yang lalu? Apa ketika seseorang tidak lagi humoris/bijak/spontan/cerewet/optimis/etc, menjadi alasan yang relevan untuk berhenti menyayangi seseorang, mencampakkannya, dan mencari orang lain dengan sifat-sifat yang pernah dimilikinya?

Terus apa dong?

Dari semua yang dimiliki manusia, apa satu hal yang tidak berubah?

"Jiwa."

Jatuh cinta karena jiwa seseorang. Karena... Dia itu dia. Bukan yang lain. Jiwanya ya cuma dia yang punya. Biasanya akrab disebut 'unconditional love'. A whole new high level of love beyond our grasp. Biasanya old married couples yang mengalami. Tunggu. Koreksi. BEBERAPA old married couples. Di mana mereka menoleransi satu sama lain, ketika semua hal berubah. Under any kind of circumstances, their love somehow never dies...

Saya sempat skeptik waktu mendengar teman saya. "Heh, kek gitu-gitu cuma ada di film. Kalo dulu waktu masih naif, gue percaya deh kaya gituan ada. Sekarang udah waktunya realistis nih."

Lalu tiba-tiba seorang dari kami bertiga, bercerita tentang kakek neneknya. Bagaimana si kakek yang begitu hancur ketika si nenek meninggal. Kehilangan semangat hidup, seakan hidupnya ikut lenyap bersama arwahnya. Singkat cerita... Seperti film The Notebook, tanpa adegan lupa ingatan.

Selesai ia bercerita, cepat-cepat saya berkedip-kedip untuk menghilangkan air mata yang mulai menggenangi kelopak mata. WE WERE IN A RESTAURANT FOR GOD'S SAKE!! I can't be seen like this!!

Itu mungkin kisah nyata bukti true love pertama yang pernah saya dengar dari orang terdekat saya. Pasalnya bahkan pasangan-pasangan di keluarga saya tidak ada satupun yang se-'sejati' itu. Mungkin begitu mendengar itu, saya tidak seskeptik yang sebelumnya. Tapi tetap tidak seoptimis waktu saya masih naif.

"Oh. Ada ya kaya gitu beneran? Gue kira cuma film..."

Lalu kami hening. Menerawang ke depan, bertanya-tanya di mana menemukan yang seperti itu? Lebih sedihnya, mungkinkah mengalami yang seperti itu?

Benteng Runtuh


Buat apa sih?

Membatin cuma untuk dihancurkan dan diinjak-injak, oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenal cukup dalam. Kemudian berkacak pinggang seakan jadi makhluk yang paling kuat, yang tak kenal rasa sakit.



Hanya untuk sesuatu yang tidak pasti.





Haruskah membangun benteng itu lagi?

She Wished for a Pair of Shoes


She wished,
for a pair of shoes,
with the color of sky blue.
For when she feels gloom,
into the sky,
her troubles flew.

She wished,
for a pair of shoes,
which perfectly fit her feet.
For when she dances gleefully,
she won't stumble and fall,
as she always did.

She wished,
for a pair of shoes,
with a fair height of heels.
For when she walks in the streets,
out in the crowd,
she will appear.

Years and years,
she prayed for this.
Until finally,
god answered her plea.

Blue as the sky
fair height of heels,
and fit her feet.

But all she brought was disappointed glare...

Why, oh, why?

They didn't come in pairs,
that's why.
How was she supposed to wear?
She sat down and sighed.
No wonder she's driven to despair.

She wishes,
for a pair of shoes.
All she got,
was her bare feet,
covered in bruise.

---------------------------------------------

Eyyy my first English poems y'all~~ gahaah lagi ter-influenced gara-gara lagi sering denger Tom Hiddleston's audiobooks. Masih shitty tp seru juga ternyata. Moral: "Almost is never enough." Dem shoes were almost perfect mayn. But 'almost'. So it's not. But is there any perfection in this world though? So it shouldn't be a problem. But the word 'almost' makes it even harder to accept the fact that it's actually not perfect. 

GAAAH.

The world isn't completely black and white ah, Rin.

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE