Diskusi Sabtu Sore

7:28 AM


Kemarin tumben pembicaraan kami berbobot sedikit. Alih-alih, meluapkan perasaan dan menceritakan ulang kejadian yang dialami, kami justru mendiskusikan banyak hal.

Ketika lelah berdebat panjang, akhirnya sampai pada satu kesimpulan.

Jatuh cinta hanya karena fisik seseorang, tidak akan cukup dan terkesan rendah. "You fell in love with my flower but not with my roots. So then, when autumn arrived, you didn't know what to do."

Jatuh cinta karena momen-momen tertentu, kuat, namun juga masih tidak cukup. Untuk sesaat, kalian bisa berpikir, "Ini pasti berarti sesuatu kan? Somehow, semesta berkonspirasi agar aku dan dia bertemu, mengalami kejadian itu, and everything feels right? Takdirkah?" Pernah mendengar istilah alternate universe? Bagaimana jika dia, yang jatuh cinta ketika mengalami momen dengan kalian, di suatu alternate universe mengalami momen yang sama persis seperti apa yang kalian berdua alami, namun dialaminya dengan orang lain? Apakah dia juga akan jatuh cinta dengan orang lain itu? Mendadak tidak lagi merasa spesial? Mendadak menganggap ini cuma permainan semesta? Ha! "Setidaknya ketika seseorang jatuh cinta pada X karena fisik, memang karena cuma X yang memiliki fisik seperti itu." Kemudian disahut dengan bagaimana di dunia ini setiap manusia punya 7 orang berwajah mirip dengannya, terpisah di belahan dunia lain, etc etc etc.

Jatuh cinta karena kepribadiannya, seringkali dianggap jadi alasan paling relevan dan 'mulia'. Padahal sifat dan kepribadian seseorang bisa berubah. Coba, sifat-sifat yang kalian miliki sekarang, apakah sama persis seperti yang kalian miliki 10 tahun yang lalu? Apa ketika seseorang tidak lagi humoris/bijak/spontan/cerewet/optimis/etc, menjadi alasan yang relevan untuk berhenti menyayangi seseorang, mencampakkannya, dan mencari orang lain dengan sifat-sifat yang pernah dimilikinya?

Terus apa dong?

Dari semua yang dimiliki manusia, apa satu hal yang tidak berubah?

"Jiwa."

Jatuh cinta karena jiwa seseorang. Karena... Dia itu dia. Bukan yang lain. Jiwanya ya cuma dia yang punya. Biasanya akrab disebut 'unconditional love'. A whole new high level of love beyond our grasp. Biasanya old married couples yang mengalami. Tunggu. Koreksi. BEBERAPA old married couples. Di mana mereka menoleransi satu sama lain, ketika semua hal berubah. Under any kind of circumstances, their love somehow never dies...

Saya sempat skeptik waktu mendengar teman saya. "Heh, kek gitu-gitu cuma ada di film. Kalo dulu waktu masih naif, gue percaya deh kaya gituan ada. Sekarang udah waktunya realistis nih."

Lalu tiba-tiba seorang dari kami bertiga, bercerita tentang kakek neneknya. Bagaimana si kakek yang begitu hancur ketika si nenek meninggal. Kehilangan semangat hidup, seakan hidupnya ikut lenyap bersama arwahnya. Singkat cerita... Seperti film The Notebook, tanpa adegan lupa ingatan.

Selesai ia bercerita, cepat-cepat saya berkedip-kedip untuk menghilangkan air mata yang mulai menggenangi kelopak mata. WE WERE IN A RESTAURANT FOR GOD'S SAKE!! I can't be seen like this!!

Itu mungkin kisah nyata bukti true love pertama yang pernah saya dengar dari orang terdekat saya. Pasalnya bahkan pasangan-pasangan di keluarga saya tidak ada satupun yang se-'sejati' itu. Mungkin begitu mendengar itu, saya tidak seskeptik yang sebelumnya. Tapi tetap tidak seoptimis waktu saya masih naif.

"Oh. Ada ya kaya gitu beneran? Gue kira cuma film..."

Lalu kami hening. Menerawang ke depan, bertanya-tanya di mana menemukan yang seperti itu? Lebih sedihnya, mungkinkah mengalami yang seperti itu?

You Might Also Like

0 voices

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE