It's easier this way.


Waktu itu agak jadi kepikiran setelah saya di-'interogasi' oleh salah seorang teman yang baru saya kenal. Sifatnya memang memiliki rasa ingin tau yang besar, dan kebetulan saya salah satu pribadi yang paling menggelitik rasa penasarannya. Banyak rentetan pertanyaan yang dia lontarkan untuk saya. Beberapa di antaranya lumayan membuat saya tertegun dan berpikir ulang...

"Orang yang seperti apa yang lu suka?"
"Orang seperti apa yang lu tidak suka?"
"Orang seperti apa yang bisa masuk ke lingkaran sahabat lu?"
"Sahabat lu orang-orang yang seperti apa? Apa yang membuat lu begitu mantap menyebut mereka 'sahabat'? Karena jujur gue belum pernah menemukan orang yang bisa gue sebut sahabat"

Wah seru sekali sih ngobrol sama dia. Walaupun saya agak sadar saat itu sebetulnya dia sedang 'menguliti' saya, lapisan per lapisan.

Masa bodoh lah hahaha anggap saja dia seorang terapis untuk sesaat.

Kemudian seorang temannya yang melihat dia – ketika lagi tercengang-cengang mendengar jawaban-jawaban saya –  kemudian menyeletuk,

"Nggak semua orang sama laah..."

Hm dan saya juga jadi berpikir beberapa hari kemudian. Iya ya. Benar juga.

Nggak semua orang sama. Ada yang ekstrovert. Ada yang introvert. Ada yang hiperaktif. Ada yang sangat pasif. Ada yang oversensitive. Ada yang highly callous. Ada yang gullible. Ada yang sangat suspicious. Ada yang easy going. Ada yang reserved.

Some fit the others. Some just don't. 

Memang sih. Manusia itu aneh. Dia bisa memilih sebagian dari sekitar 7 milyar kepala di bumi ini dan berkata "Hey sepertinya aku suka yang ini."

Bagaimana kau bisa menentukan apakah kau cocok atau tidak dengan orang lain? Itu pertanyaan yang dilontarkannya yang lumayan membuat saya memutar otak. Sampai saya akhirnya sadar...

Menurut saya kecocokan itu sesuatu yang dirasakan. Bukan dipikirkan. Bukan berdasarkan bulleted list panjang mengenai definisi 'ideal' yang ada di dalam otak. Bukan juga berdasarkan kesamaan sifat.

Biasanya hanya karena memang tidak terasa cocok.

Sesederhana itu.

Sesederhana berusaha melengkapi puzzle dengan potongan yang salah. Lubang lingkaran tidak bisa diisi kotak. Lubang kotak juga tidak bisa diisi lingkaran.

Apakah itu salah si lingkaran yang berbentuk bulat atau salah si kotak yang bentuknya memiliki sisi-sisi tegak lurus? Bukan salah keduanya. Yang salah hanya orang yang memaksakan memasang bentuk-bentuk tersebut, tidak pada tempatnya.

Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan. Terkadang ada yang lebih baik tidak disatukan. Demi kebaikan semua pihak.

Untuk Memperluas Beberapa Pikiran di Luar Sana


"Iiiih! Dandan! Genit deh!"
"Cie make up-an. Mau ketemu siapa emang?"
"Lebay amat sih ke *** aja dandan begitu. Nggak ada yang liat juga."
"Make-up-nya menipu publik banget."

Untuk beberapa kaum hawa pasti pernah dengar komentar-komentar semacam itu, baik dari laki-laki maupun sesama perempuan. Entah mungkin saya yang terlalu sensitif karena sedang menjadi monster Karin di masa PMS-nya... Tapi saya mulai muak dan yang saya heran...

Kenapa orang-orang itu selalu menganggap ketika perempuan berdandan itu untuk menarik perhatian lelaki?

Seakan-akan segala hal yang dilakukan perempuan itu semata-mata untuk tujuan pemuasan mata laki-laki atau cinta-cintaan saja? Seakan-akan semua hal di dunia ini berpusat pada mating purpose semata?

Sesempit itukah pikiran kalian?

Pernah nggak terbersit di otak kalian kalau tidak semua orang punya tingkat kepercayaan diri atau self-esteem yang tinggi? Sadarkah kalian kalau memiliki sifat insecure itu adalah sifat yang manusiawi?

Pernah terbersitkah kalau mungkin memakai make-up membuat sebagian perempuan feel better about themselves? Pernah terbersitkah kalau mungkin memakai make-up membuat beberapa perempuan memang merasa bahagia? Bukankah sudah menjadi hak setiap orang untuk merasa bahagia? Dan kalian pikir, kalian siapa seenaknya mengganggu hak orang lain?

Dan salahkah ketika seseorang berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya agar menjadi lebih baik? Ada dampak merugikan apa yang terjadi pada kalian ketika seseorang melakukan hal tersebut?

Bukan untuk menarik perhatian, apalagi untuk menipu, melainkan untuk memuaskan diri sendiri.

Mengherankan kira-kira alasan apa yang membuat saya menulis post seperti ini? Saya sendiri tidak menyebut diri saya make-up junkie atau sejenisnya. Saya hanya terkadang memakai make-up di saat-saat tertentu yang saya inginkan saja. Saya sendiri juga tidak pernah menyebut diri saya seorang feminist meskipun hal-hal yang saya tulis di post ini terdengar seperti sesuatu yang ditulis oleh seorang feminist.

Alasannya sesederhana ini: Karena di negara ini terlalu banyak orang-orang stuck-up berpikiran sempit yang sangat senang mencibiri dan mengurusi hidup orang lain, ketimbang memperbaiki hidup mereka sendiri yang jelas-jelas tidak lebih baik.

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE