Fucking Hurt.



"Discounting means giving our feelings, emotions, thoughts and opinions lesser value, and in so doing, devaluing or discounting us. Discounting tells us that our thoughts and experiences are worth nothing. If we are upset, we may be told that we are making a mountain out of a molehill, imagining things, too sensitive, can't take a joke, too serious, etc etc etc. Basically any statement which tries to discount or deny our reality as we perceive it. We end up wondering whether our partner is right and we are imagining things, too sensitive, etc. We lose our willingness to trust in our own judgment and perception.

When verbal abuse is disguised as a joke it simply isn't funny. It may be a disparaging comment said with a laugh or a smile, but which actually feels more like an attack on our competencies, abilities or values, or it may be a sexist joke which we find offensive. If we verbalise that we don't think it was funny, we may then be discounted ("You don't know how to take a joke.") or our partner may get angry with us. Some abusers also purposely frighten or scare us and then laugh, as though it were funny when it was actually designed to give us a fright.

Blocking and Diverting are both ways of preventing or controlling a discussion or changing the topic. An example of blocking is simply refusing to discuss an issue, while diverting changes the discussion from the original topic to one of the abusers choice, often by criticising us in some way so that we end up trying to defend ourselves or explain ourselves and lose sight of the original aim of the conversation.

Blaming and accusing are self-evident and consist of statements or retorts which are designed to shift the blame and the emphasis from abuser onto victim. While it is easy to pick up blaming and accusing when we are, for instance, accused of sleeping with someone else, it is not so easy to recognise phrases such as "You always have to have the last word" as an accusation.

Name calling again is an overt, obvious form of verbal abuse, designed to hurt or degrade us. Terms of endearment can also be used in an abusive way, when spoken with obvious sarcasm for example."

Justified


Karena marah membenarkan semuanya ya.

Marah membenarkan kata-kata jahat yang keluar.

Marah membenarkan berubah pikiran sesuka diri.

Marah membenarkan, walaupun menyakiti orang lain.

Marah membenarkan, tanpa mendengar orang lain.

Marah membenarkan, karena menurut marah, "Orang lain selalu salah, saya yang benar! Saya dirugikan sekali! Semua hancur gara-gara kamu!"

Marah menutup logika.

Marah tidak punya empati.

Marah tidak mau bertoleransi.

Marah tidak bisa ditahan, tidak juga mau untuk ditahan.

Marah menuntut orang lain harus mengerti, tanpa peduli marah telah berbuat apa.

Marah itu buta.

Marah buta tidak bisa melihat air mata orang lain.

Marah membenarkan bertindak sesuka hati, meskipun orang lain tersakiti.

Marah pikir hanya dia yang merasa.

Marah lupa orang lain juga merasa.

Saya Juga Manusia



Hai.

Lama tak jumpa ya. Ini saya, Karin. Bukan, bukan Karin yang kerap jadi bahasan kawula muda itu. Ini Karin, yang suka menumpahkan luapan-luapan emosinya di tempat ini tanpa ada tujuan mengemis perhatian.

Iya.

Hai (lagi). Apa kabar? Masih setia baca tulisan saya? Sebelumnya saya minta maaf atas keburukan kualitas tulisan-tulisan saya akhir-akhir ini. Ini pertama kalinya, setelah sekian lama, saya menulis dengan keadaan waras dan tidak dikendalikan emosi-emosi satanik yang tidak sehat. Di sini juga saya bukan bermaksud untuk menjelaskan sebab dan asal muasalnya emosi-emosi tersebut. Saya cuma ingin mencoba menulis lagi tanpa tekanan, tanpa luapan amarah, tapi dengan pikiran saya.

Setelah sekian lama, saya akhirnya punya waktu sejenak untuk sendiri. Sejenak saja, sangat cukup.

Akhir-akhir ini berat memang. Saya akui. Entah apa penyebab sebenarnya. Entah karena memang bumbu-bumbu manisnya sudah memudar, atau karena belang aslinya makin terlihat.

Tiba-tiba saya teringat satu kejadian yang saya ingat benar. Kejadian lalu, ketika 'bahagia' adalah kata yang kami sematkan pada satu sama lain.

Hey, masih ingatkah kamu dulu kita seperti itu? 

Kemudian senyum saya menghilang. Saya telusuri lebih jauh lagi. Ketika tidak ada satupun hal yang menyulut api kami. Sekarang, api kami seperti tak pernah padam. Hal yang dahulu tidak pernah kami perhatikan, sekarang justru jadi pemantik yang siap membakar semuanya.

Kenapa?

Bukankah kami masih dua orang yang sama? Saya masih saya. Kamu juga masih kamu. Saya memutar otak, mengulang pertanyaan tersebut berulang kali. Kejadian sama, beda waktu, beda tanggapan. Apa yang membuat berbeda?



.



.




EKSPEKTASI




.




.



Kemudian kata itu muncul. Si gajah di dalam ruangan. Sebuah kata yang mematikan. Saya benci kata itu. Berapa banyak manusia yang tersakiti karena ekspektasi? Bodoh ya manusia, sudah tau ekspektasi menyakitkan, tapi masih saja dilakukan. Sadomasokis. Bukankah manusia bisa lebih bahagia ketika ia tak mengharap apa-apa? Bukankah kita bahagia ketika dulu kita tidak mengharap apa-apa? Mungkin ekspektasi adalah salah satu sifat yang paling manusiawi yang pernah ada.

Ya... Itulah manusia. Makhluk hidup paling kompleks di semesta. Mungkin saat kita belajar menerima bahwa kita sesama makhluk rumit yang punya pikiran dan perasaan.

Saat kita mencoba melihat tidak hanya dari satu perspektif saja, karena setiap orang punya persepsi yang berbeda. Saat kita menyadari dan menghargai perbedaan dari orang lain, ketimbang mati-matian mengubahnya menjadi persamaan. Saat manusia tidak melulu melihat dirinya, tapi juga manusia lainnya.

Mungkin saat kita membuka pikiran bahwa kita adalah sesama manusia. barulah kita benar-benar merasa bahagia dengan hadirnya manusia lain di hidup kita.

-----

P.S. Terinspirasi dari artikel ini.

What a ride.



"Hey girl. It's late.
Why are you crying?"

"Cause I like the way the single drops of my tears running down every curve of my facial features.

It goes down so fast from my eye, then it hits a bump, people call nose. Swoop, up and then down again. Taking a turn on the eyebag and opposite eye corner. Before finally disappears on the pillow.

 Like floaties on the waterslides. 

How i love waterslides."

Big Reunion


Shortness of breath.

Heart races rapidly.

Stomach tied in knots.

A little tremor on the fingers.

In a fraction of seconds, I knew what those signs mean.

Oh, hello darkness, my old friend. :) 

Fragments of Thoughts


How many people have wished they could have a time machine? Everyone right. How amazing is it, to see what the future's gonna be like, and just do something based on how things will turn out. Huh. And no, i'm not going back to the past, cause what's done is done. Going back to the past is only for people who haven't moved on, darling.

------------------

Why can't I make you happy? Maybe I'm not capable of decent human interactions. 

------------------

Ya, mengingat post Udun, mengenai kelabunya tulisan-tulisan di blognya. Saya merasa perlu juga menjelaskan kenapa begini dan begitu. Saya setuju banget sama Udun, kalau momen bahagia, ya harus dinikmati, bukan diumbar kemana-mana. Kalau momen sedih, ya daripada saya mengganggu waktu teman-teman saya untuk insecurities saya yang nggak penting ini, ya satu-satunya cara untuk mencurahkan, ya cuma di blog ini. Hehe. Jadi itu salah satu alasan kenapa salah satu liburan paling menyenangkan saya, nggak saya jabarkan secara detil di sini. Namanya juga gluethegloom, kalau gak gloomy, bukan itu namanya. 

------------------

.in the mood.


Wise man once said, "When the insecurities strike, deviate those monstrous thoughts by watching a movie that gives you warm feelings."

Ya. Ya. Ya. Dari sekian film yang ada di muka bumi ini, entah kenapa saya pilih In The Mood For Love. Kemudian saya cuma bisa tersedu bilang "Huuuuu. Feeeeelsss.". Tambah parahnya, bukannya membuat perasaan lebih baik, justru filmnya buat saya tambah insecure. Ih. Jadi sadar, itu bisa terjadi pada siapapun. Faaaaaaaaa-a-aaaa-a-a-aaaaaak.

Lalu, kalau sudah insecure, biasanya langsung pasang crazy self-defense mode. Pessimistic self defense mode. Hah sudahlah. Runyam.

Benar ya kata orang. Ini berat. Huh.



P.S. By 'wise man' i mean 'woman' i mean me. Kemudian yang berat itu yang sedang saya jalani sih. Bukan filmnya. Duh. 

Surgaku diinjak telapak kaki mu


Hanya karena kita memiliki darah yang sama, bukan berarti sifat kita sama. Tidak pahamkah Anda dengan konsep hak asasi manusia? Bukankah Anda seharusnya jauh lebih bijak dari saya? 

Tidak ada manusia yang berhak untuk merenggut kebahagiaan manusia lain, apapun relasinya. 

Bahagia bukan selalu materi, Nyonya.

22 tahun saya mendengar celaan yang keluar dari mulut Anda. 22 tahun saya mendengar Anda mencela kebahagiaan saya. Dan saya tidak pernah sekecewa ini mendengar yang baru Anda katakan. 

Salahkah saya perlu mencari kebahagiaan di luar, ketika di rumah saya tidak bisa menemukannya?

Ekspektasi Selebrasi


Syukurlah...

Akhirnya saya punya kesempatan untuk membereskan segala omong kosong dan tetek bengek blog ini. Posting-posting ababil tidak berkualitas pun sudah jauh berkurang. Meskipun ada laporan magang dan kesayangan yang harus terlantar karena ini, yang penting terbenahi dan layak publik. Ya dengan ini saya resmi menyatakan:

Blog ini tidak alay lagi.

Hore~

Good things don't come easy


Kamu itu hal baik saya.

Orang bilang, hal baik tidak datang dengan mudah. 
Tapi kamu masuk hidup saya dengan mudah.

Orang bilang, hal baik tidak datang dengan mudah. 
Tapi kamu mengambil hati saya dengan mudah.

Orang bilang, hal baik tidak datang dengan mudah. 
Tapi kamu punya rasa untuk saya dengan mudah.

Orang bilang, hal baik tidak datang dengan mudah. 
Tapi kamu membuat angan rencana masa depan dengan mudah.

Orang bilang, hal baik tidak datang dengan mudah. 
Tapi kamu dan saya menyelesaikan masalah dengan mudah.

Orang bilang, hal baik tidak datang dengan mudah. 

Itukah alasannya kita berada di belahan bumi yang berbeda? 

Oh, What Life You Got



What is it with humans and social medias? Here's what social media is to me. Social media is basically a platform for humans to brag about their lives to another human, so they would feel like they have better lives than the others. Unhealthy, most of the times.

They boast about how 'perfect' their lives seem, perfect clothes, perfect friends, perfect hangs, perfect boyfriend, perfect everything. Thirsty for numbers of likes they can get as a validation of their beings. Hungry for comments of praises from the others.

On the other side, they actually sign up for these made up lives. They deliberately keep up with updates about certain stuffs they're interested in. In fact, they want to witness how other people's lives are. They relish to peer at those 'better lives'. They adore it, they envy it. Sulking on the things they don't have in their lives, instead of being grateful for what they have.

Social media is modern days' brand new heroin.


Jakarta, March 31st 2016



A bored blogger,
Who gets sick of seeing KarJenners BS on every social media platform

Clueless as clueless gets.



What you don't know is, how I need to spill these feelings I have inside to this piece of digitalized version of diary, just to keep my sanity.

What you don't know is, how sometimes I feel like you're just gonna be another mistake in my life, and how it hurts to think about the possibilities.

What you don't know is, how sometimes I feel like you're just like any others who will stomp my heart on the ground.

What you don't know is, how hard I try to look tough, just to convince you and me, that you're never gonna be able to break me...when in fact, you are.

What you don't know is, how much I hate admitting that I've invested so much feelings on this...and how much I've been reprimanded for having done so.

What you don't know is, how much I deny feeling all of those things above, because my na├»ve heart still hopes that I might be wrong...somehow. 

High Risk, High Reward



"You are wasting your time! Why would you let your great life be ruined by someone like that?!"

Tamparan kata-kata dari seorang teman, kemudian saya tersedu dalam hati. 

Tapi bagaimana jika justru orang itu yang akan membuat hidup saya lebih luar biasa lagi...? 

Somatic Detachment Issues: Day 123



Communication is the key to everything. Sometimes communication is all we've got.

And at one point, we've promised to each other to always keep in touch. Always, no matter what.

Maybe it shows, maybe it doesn't but, I've been putting real effort trying to do that. Yes, this girl, named Karin, who barely even talks to people in real life.

Then again, you know how life is. Sometimes, even when you're putting your best effort, things just don't go as well as you expect it to be. A few bumps here and there, that's normal, I can handle it.

Strangely what annoys me the most is...me. Yes, moi. Myself.

See, as you may have already known, I have this monster in my head, who keeps twisting scenarios in my head. This monster that makes me see the worst possibilities in any kind of situation. I'm drowning in them.

And everytime there's a bump in the road, all I can think about is "Did I just run over someone to his death with my car?"

Over and over again.

See the thing is, in that kind of situation, you can always stop the car, get out, and check if I actually murdered someone or not. Simple right?

But...

This is a whole lot different thing.

Instead of driving an actual car, I am driving a virtual car on an arcade for heaven's sake. We're not talking about Fast & Furious or Rush here. We're talking about Grand Theft Auto and Maximum Tune kinda shit.

Have you ever played one of those things? Nope, there's no stopping to check what you just hit with your car. The game makes it physically impossible for you to do that.

I can't check what's going on. I can't see what was actually happening. I can't just get out of my car and look for the dead body under my car.

All I can do is just to get by and see the results at the end of the game. How many bodies did I run over? Do I win the game? Do I lose?

Until then, I keep repeating possibilities in my head, over and over again. It is exhausting.

It's dysfunctional. That's not how a human mind's supposed to work. How am I supposed to communicate THAT?

"Hey, how's it going? You know what, this just in. Turns out I got a terrible anxiety issues here. Just wanted to let you know, that I keep thinking about you, getting sick of me... And the thought itself tortures me. That's all. No biggie, it's not you, it's me. Hope you understand. So, toodles!"

COME ON! Be realistic.

**sigh**

Why am I like this :')

Hey, so are you sick of me yet, Puddin'? 

Karin; [kAh-rin] (n) : major fuck up in social interactions



Self-Esteem Attacks:

Often mistakenly called panic attacks, Self Esteem Attacks often lead to depression and feelings of devastation. Common to some degree to all who suffer from low self esteem, Self Esteem attacks occur when a person perceives she has done or said something insensitive, inappropriate, stupid, or ridiculous. As a result of these dreaded periods of self-loathing the low self esteem sufferer tends to do such things as: a) isolate or refrain from new activities to avoid looking foolish or inept, b) stay quiet and not share ideas or perceptions for fear of saying something "wrong," c) not initiate with others for fear of rejection, and d) not look for a better job because of feelings of inadequacy, or e) remain in a destructive relationship because of feeling too inadequate to be alone.

"Self Esteem Attacks" occur whenever a person with low self esteem does or says something that he afterwards deems to have been inappropriate, stupid, rude, obnoxious, off target, or inaccurate. At that time, the person may experience immediate remorse, excruciating anxiety, his heart racing, his face turning red, a sinking feeling of embarrassment, depression and/or devastation. Wishing he could sink into the floor or disappear he may immediately look for a way to escape. He may feign illness, sneak out without saying anything, or just become totally silent, hoping not to be noticed. He will believe that everyone saw his blunder and is thinking poorly of him, maybe even laughing at him. This is a full blown Self-Esteem Attack that may last for minutes, hours, even days during which he berates himself, is fearful of seeing anyone who was in attendance at the time he made his "mistake," and remain seriously depressed. All people who suffer from low self-esteem have these attacks though they vary in degree and in length depending upon how serious the person judges his gaffe, how highly he values the opinions of those in attendance, and what he surmises the repercussions will be.

More:
http://www.getesteem.com/lse-symptoms/symptom-details.html

---------------

Dayumn Daniel. This writer describes me like they've known me my whole shitty life. 

My Curse



"Furthermore, faced with certain kinds of officiousness or unreliability in others, we should dare to imagine that things are perhaps not quite as they seem."


Mungkin menjadi alasan utama mengapa saya selalu melihat ada yang salah dari sekeliling saya. Saat ini, semua yang ada di sekeliling saya terlihat sangat salah. Ini kutukan saya.





"Life generally goes wrong. It's hard to be happy for more than just 15 minutes."

Mungkin menjadi alasan utama mengapa saya selalu melihat skenario terburuk dari apa yang mungkin terjadi. Jujur saja, saat ini semua yang saya lihat adalah skenario-skenario yang sangat buruk. Ini kutukan saya.

4,071.64 mil


Menemukan ketika tidak mencari...
Tapi bagaimana kau tau kau telah menemukan kalau tidak tau apa yang dicari?
Apa yang saya cari?

Saya, di masa lalu, pernah berikrar,
"Saya mencari dia yang punya sudut pandang yang sama!
Lalu ketika kami bertemu, kami akan menghabiskan malam membicarakan bagaimana fucked up hidup kami ketika Spacey muncul sebagai tokoh antagonis dalam hidup kami."
Nyatanya, dia bahkan tidak ingat Spacey siapa.

Saya, di masa lalu, pernah bermimpi,
"Saya mencari dia yang menyanyikan melodi yang sama!
Lalu ketika kami bertemu, saya akan bersenandung sepenggal lirik lagu ketika kami berjalan pulang, dia akan melirik saya dengan heran, namun kemudian, ia akan menyelesaikan penggalan lirik tersebut dengan suara keras dari ujung paru-parunya."
Realitanya, dia buta nada.

Tidak. Saya tidak mencarinya.

Oh, tentu saja tidak!

Saya pasti gila mencari dia yang punya ingatan seburuk ikan mas.
Saya pasti gila mencari dia yang bisa bekerja dengan ruangan sunyi tanpa ada melodi yang mengisi.
Saya sudah pasti gila mencari dia yang bisa jadi sangat...norak!

I-YUH!

Gila kamu, Karin!

Oh, sial. Saya mengumpat diri sendiri lagi.

Bukan berarti saya gila kan......? Eh atau saya gil...
AH! Berhenti membicarakan kejiwaan, saya dan kau bukan psikiater!

Meskipun begitu, saya menemukan dia.

Saya menemukan dia yang lebih menyukai salmon panggang ketimbang salmon sashimi yang menurutnya menggelikan.
Saya menemukan dia yang lebih memilih menonton dari bawah rollercoaster yang berputar-putar, alih-alih duduk di dalam rollercoaster dan berteriak bersama di sebelah saya.
Saya menemukan dia yang memilih panasnya aktivitas luar ruangan alih-alih sejuknya pendingin ruangan di dalam sebuah gedung atau rumah sendiri.
Saya menemukan dia yang menumpahkan semua hal yang muncul di dalam otaknya ketimbang menguncinya rapat-rapat di dalam otak, seperti yang saya lakukan.

Tapi...

Yang saya temukan, punya kecerdikan yang bahkan lebih mengagumkan dari dongeng Kancil yang sering kau dengar waktu kecil.
Dia benar-benar berusaha membongkar isi pikiran saya yang tadinya saya kunci rapat-rapat.
Yang saya temukan, mampu membuat saya tersenyum bahkan terbahak seperti orang bodoh hanya dengan membacanya dari layar ponsel saya.
Yang saya temukan, pandai menggodai saya dan berkelit sampai saya kehabisan kata-kata untuk membalasnya.

Bahayanya, yang saya temukan, terkadang sangat menjengkelkan. Begitu menyebalkan, sampai satu-satunya yang ingin saya lakukan adalah memunggunginya dan menolak untuk mengatakan sepatah katapun. Namun, yang saya temukan berkata,

"Jangan. Jangan memperenggang celah ini. Bicaralah."

...

Saya berbicara. Dia berbicara. Kami berbicara. Seketika semua amarah saya menghilang.

Semudah itu.

Gilakah saya, saat apa yang saya temukan, terasa sedikit lebih baik dari apa yang saya cari?

Hanya satu yang membuatnya bisa jadi lebih buruk...

.

.

Ketika yang saya temukan, tidak bisa saya rengkuh.

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE