Saya Juga Manusia

4:55 AM



Hai.

Lama tak jumpa ya. Ini saya, Karin. Bukan, bukan Karin yang kerap jadi bahasan kawula muda itu. Ini Karin, yang suka menumpahkan luapan-luapan emosinya di tempat ini tanpa ada tujuan mengemis perhatian.

Iya.

Hai (lagi). Apa kabar? Masih setia baca tulisan saya? Sebelumnya saya minta maaf atas keburukan kualitas tulisan-tulisan saya akhir-akhir ini. Ini pertama kalinya, setelah sekian lama, saya menulis dengan keadaan waras dan tidak dikendalikan emosi-emosi satanik yang tidak sehat. Di sini juga saya bukan bermaksud untuk menjelaskan sebab dan asal muasalnya emosi-emosi tersebut. Saya cuma ingin mencoba menulis lagi tanpa tekanan, tanpa luapan amarah, tapi dengan pikiran saya.

Setelah sekian lama, saya akhirnya punya waktu sejenak untuk sendiri. Sejenak saja, sangat cukup.

Akhir-akhir ini berat memang. Saya akui. Entah apa penyebab sebenarnya. Entah karena memang bumbu-bumbu manisnya sudah memudar, atau karena belang aslinya makin terlihat.

Tiba-tiba saya teringat satu kejadian yang saya ingat benar. Kejadian lalu, ketika 'bahagia' adalah kata yang kami sematkan pada satu sama lain.

Hey, masih ingatkah kamu dulu kita seperti itu? 

Kemudian senyum saya menghilang. Saya telusuri lebih jauh lagi. Ketika tidak ada satupun hal yang menyulut api kami. Sekarang, api kami seperti tak pernah padam. Hal yang dahulu tidak pernah kami perhatikan, sekarang justru jadi pemantik yang siap membakar semuanya.

Kenapa?

Bukankah kami masih dua orang yang sama? Saya masih saya. Kamu juga masih kamu. Saya memutar otak, mengulang pertanyaan tersebut berulang kali. Kejadian sama, beda waktu, beda tanggapan. Apa yang membuat berbeda?



.



.




EKSPEKTASI




.




.



Kemudian kata itu muncul. Si gajah di dalam ruangan. Sebuah kata yang mematikan. Saya benci kata itu. Berapa banyak manusia yang tersakiti karena ekspektasi? Bodoh ya manusia, sudah tau ekspektasi menyakitkan, tapi masih saja dilakukan. Sadomasokis. Bukankah manusia bisa lebih bahagia ketika ia tak mengharap apa-apa? Bukankah kita bahagia ketika dulu kita tidak mengharap apa-apa? Mungkin ekspektasi adalah salah satu sifat yang paling manusiawi yang pernah ada.

Ya... Itulah manusia. Makhluk hidup paling kompleks di semesta. Mungkin saat kita belajar menerima bahwa kita sesama makhluk rumit yang punya pikiran dan perasaan.

Saat kita mencoba melihat tidak hanya dari satu perspektif saja, karena setiap orang punya persepsi yang berbeda. Saat kita menyadari dan menghargai perbedaan dari orang lain, ketimbang mati-matian mengubahnya menjadi persamaan. Saat manusia tidak melulu melihat dirinya, tapi juga manusia lainnya.

Mungkin saat kita membuka pikiran bahwa kita adalah sesama manusia. barulah kita benar-benar merasa bahagia dengan hadirnya manusia lain di hidup kita.

-----

P.S. Terinspirasi dari artikel ini.

You Might Also Like

2 voices

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE