Broken Record

I have never felt this stupid in my life...

For every word that comes out of my mouth.

I replayed back every single bit of that session.

June 17th, 2017

17:30 GMT+7

The day I prove to the world that, your beloved writer here, is a fucking dumbfuck.

Never in my life I saw myself being out of control like that.

I felt like a broken record.

I felt like a robot experiencing a circuit error in its head, causing it to vomit every word related to the question...not even in a human linguistic order. 

Every bullshit that I made is just so fucking unbelievable.


Hfffff.

Mask Free Zone

Saya tadinya nggak pernah terpikir untuk menulis tentang topik ini. Ada hal-hal yang dipertimbangkan juga. Pertama, mungkin karena saya tidak ingin menjelek-jelekkan atau menyindir kawan sendiri atas suatu hal yang sebetulnya cuma berupa prasangka. Kedua, mengingat saya yang bisa jadi sangat sensitif, saya tidak mau saya yang sering berprasangka buruk sama sekitar ini jadi meracuni hubungan saya dan kawan saya dengan dugaan-dugaan sesat.

Tapi jujur agak kecewa juga sih setelah hari itu. Terlebih lagi ketika satu kawan lain yang 'kompor' mulai membuka topiknya. Hal itu jadi buat saya agak sadar, kalau yang merasakan lebih dari satu, berarti bukan saya yang salah ya?


⟶⟶⟶⟶


Semua orang pasti pernah ya mengalami kehilangan kawan? Menurut saya itu hal yang lumrah lah. Lumrah, karena nggak semua orang bisa cocok satu sama lain. Lumrah karena terkadang manusia berubah 180 derajat, menjadi orang yang jauh berbeda dari apa yang dulu kita kenal. Lumrah karena terkadang manusia perlu tersakiti dulu untuk sadar kalau mereka bukan kawan yang baik. Lumrah karena manusia kadang bodoh... telat sadar kalau mereka bukan kawan yang diinginkan.

Memang, intinya nggak ada yang perlu dipaksakan.

Saya sendiri pernah mengalami kehilangan kawan. Beberapa kali malah. Dari kasus saya yang ditinggalkan, atau saya sendiri yang meninggalkan, atau bahkan sama-sama meninggalkan, baik sengaja ataupun nggak. Istilahnya saya udah hafal betul lah soal semua itu. Tapi saya nggak akan bahas semuanya sekarang. Untuk sekarang mungkin lebih terdorong untuk menulis yang ini aja ya.

Karena itu sekarang kalau hal-hal menjurus itu mulai terjadi, saya selalu coba untuk lihat dari sisi dua belah pihak sebelum terjun ke pengecapan secara permanen. Sama untuk kasus yang ini juga. Saya nggak mau cepat-cepat langsung terjun mengecap buruk atau apapun itu.

Kawan saya ini... Entah juga sih harus menjelaskan dari mana. Intinya dia sempat jauh menghilang beberapa lama, dan sekarang telah kembali gitu. Tapi setelah kembali, entah kenapa jadi susah sekali untuk ditemukan.

Long story short, dikarenakan wacana-wacana yang terus beredar tanpa ada kejelasan lanjutan, lama-lama saya mulai merasa janggal. Kenapa sekarang jadi begini? Apa dari dulu sesulit ini? Atau memang sesulit itu sekarang? Lalu seperti biasa, muncul pikiran-pikiran buruk saya. Seperti apa saya yang berubah? Atau dia yang berubah?

Jujur, ketika itu saya benar-benar bawa pikiran. Bingung, kecewa... Semua deh.

Sampai saya tiba-tiba teringat masa lalu saya. Saya yang berada di posisi sebaliknya. Saya yang meninggalkan karena alasan-alasan pribadi saya. Seketika itu juga saya bisa mengerti. Mungkin memang dia juga memiliki alasan-alasan pribadi yang tidak bisa disampaikan, sehingga memaksa dia untuk menghilang seperti itu.

"Oh... Yasudah. Tidak apa-apa." 

Hanya itu yang bisa saya gumamkan dan sampai detik ini saya lega untuk bisa dengan tulus mengatakan kata-kata itu tanpa sarkasme atau pura-pura belaka. Ketika itu juga saya rela melepas dan menerima apapun kondisinya. Saya sudah berkomitmen untuk tidak mengutuk atau mengecap dirinya dengan label apa-apa. Saya benar-benar tidak akan mengambil masalah ini secara personal, tanpa dendam atau perasaan apa-apa. Saya serahkan dengan keadaan, dan saya pun berhenti mengusik dia.

Semua di tangan dia.

Lalu beberapa waktu terlewat, tiba-tiba di hari besar saya, dia menghubungi saya untuk mengucapkan selamat. Sempat agak terkejut dan tidak menyangka sama sekali. Saya tanggapi dengan baik dan normal, sama seperti saya selalu menanggapi semua kawan saya. Tiba-tiba dia mengatakan bahwa dia mengajak untuk bertemu saya, kalau saya ada waktu. Saya melotot. Mungkin saya salah baca. Tapi nggak, saya nggak salah baca. Kemudian saya undang untuk bertemu bersama kawan-kawan lain juga di suatu rencana yang memang sudah jadi bahan diskusi kami selama ini. Ia sempat terlihat senang dan memberi saran untuk rencana tersebut.

Sampai ketika waktu mendekati rencana tersebut, kami buat perkumpulan untuk membicarakan hal tersebut. Tapi seperti yang selalu terjadi sebelumnya, dia tidak bersuara apa-apa. Saya mulai menduga kalau ini hanya akan menjadi wacana seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Saya pun benar. Tidak ada satu kata atau suara ataupun sekedar tanda keberadaan dia di perkumpulan itu.

"Oh... Yasudah. Tidak apa-apa." 

Sekali lagi saya mengatakan hal itu. Sekali lagi kawan-kawan saya bertanya "Kenapa?" kepada saya, padahal saya sendiri juga berada di posisi mereka, yang sudah bertanya hal yang sama selama berminggu-minggu yang lalu. Sekali lagi harus jadi juru bicara di dalam perkumpulan itu. Sekali lagi harus jadi 'pengacara' di pengadilan yang diciptakan oleh kawan-kawan sendiri ketika klien terdakwa saya hilang ditelan angin.

"Sepertinya orang seperti itu tidak bisa memiliki kawan," ujar salah satu dari mereka, merupakan yang paling vokal di antara yang lainnya.

"...kurang tau juga ya." jawab saya, sebagai pengacara diplomatis yang berusaha memilih kata sebaik-baiknya, se-minim-porovokasi mungkin, supaya tidak memperkeruh suasana.

Jawaban jujur saya:
Tidak. Belum tentu begitu situasinya. Buktinya saya tau dia punya kawan-kawan lainnya yang masih aktif bersama dia sampai sekarang. Dia bisa loyal, hanya saja nggak ke kita, kawan.

"Apa sulitnya sih memberi kabar? Kalau memang tidak mau, ya harusnya katakan 'Tidak'. Kita juga akan paham. Bukan memberi ketidakpastian seperti ini," masih orang yang sama, menyemprot dengan dingin. Kawan-kawan yang lain hanya bisa membisu.

"Ya... Memang sedikit kabar itu jauh lebih baik dibanding tidak sama sekali," tanggap saya, mulai bingung bagaimana cara menjustifikasi argumen ini secara netral.

"Kesannya tidak menghargai tau?" 

"...."

Hening. Di situ saya tidak tau harus bicara apa lagi. Di situ saya agak sedih mendengar komentar kawan saya. Lebih sedih lagi waktu sadar bahwa yang dikatakan itu masuk akal.

Saya di sini bukan untuk membenarkan apa yang kawan saya lontarkan waktu itu. Saya yakin dia tidak ada maksud seperti itu. Saya yakin kawan saya tidak semena-mena itu. Tapi saya juga menulis ini bukan untuk membenarkan apa yang dilakukan kawan saya yang itu. Hanya satu hal yang saya harap kawan saya bisa mengerti.


Hai, Kawan.

Saya tidak ada masalah jika nantinya kau yang akan meninggalkan ini. Saya tidak ada masalah jika alasanmu selama ini adalah sesederhana tidak merasa cocok lagi dengan kami. Saya tidak ada masalah jika hal ini memang hanya untuk sementara. Saya juga tidak masalah kalau ternyata kau sudah tidak nyaman lagi di sini.

SUMPAH. Tidak akan jadi masalah.

Kita semua sudah dewasa. Saya paham bahwa memang tidak ada hal yang bisa dipaksakan. Saya paham bahwa tidak semua orang bisa cocok. Saya percaya kau punya alasan yang bagus untuk semua ini dan saya tidak akan menghalang-halangi itu semua. Saya juga siap melepas kalau memang ingin dilepas.

Memang kawan yang menghilang itu menyedihkan. Memang wacana-wacana itu terasa membosankan. Memang menunggu kabar itu terkadang melelahkan. Tapi terlebih dari itu semua, bukan itu yang saya kecewakan darimu.

Saya kecewa, kenapa harus berpura-pura?

Kalau memang tidak ingin, kenapa harus mengajak? Kalau memang tidak ingin, kenapa harus bertingkah seakan-akan sebaliknya? Apa itu semua hanya supaya tidak terlihat kasar? Apa itu semua sekedar basa-basi belaka?

Kawan, sadarlah. Kita sudah berkawan cukup lama tanpa perlu basa-basi. Saya tidak butuh basa-basi hanya demi terjalinnya hubungan yang sekedar ada. Saya tidak ingin kita berpura-pura menutupi gajah di dalam ruangan, yang sebetulnya kita berdua pahami itu.

Berurusan dengan saya itu sangat sederhana.
Saya suka, saya akan hadir.
Saya tidak suka, saya akan menjaga jarak.
Anda suka, silahkan tinggal.
Anda tidak suka, silahkan menjaga jarak.
Ketika saya bilang mau, ya artinya memang mau.
Ketika saya bilang tidak, ya artinya memang tidak.
Karena yang 'suka' tidak bisa dipaksa untuk 'tidak suka', begitu juga yang 'tidak suka', tak bisa dipaksa untuk 'suka'.

Saya tidak akan mau bermuka dua. Saya pernah mencoba dan tidak pernah mau lagi. Melelahkan tau? Hidup sudah melelahkan. Saya tidak mau dipersulit lagi dengan berpura-pura atau bermuka dua. Itu alasan saya kalau selama ini saya menjaga jarak atau tidak sedekat dulu lagi dengan beberapa orang. Lebih baik begitu daripada saya harus bersikap palsu.

Intinya lakukan hal yang perlu dilakukan. Kalau memang memiliki alasan-alasan apapun, silahkan. Kalau memang tidak ingin, jangan katakan ingin. Kalau memang tidak ingin, ya bersikaplah seperti tidak ingin. Kalau memang ingin, bersikaplah seperti orang yang memang ingin. Kami semua juga tidak menuntut apa-apa. Yang kami tuntut cuma kejujuran saja. Tak usah pura-pura ataupun basa-basi. Ini bukan politik. Biarkan Pak Jokowi dan anteknya aja yang berpolitik.

Apapun hasil akhirnya, saya akan selalu menganggapmu kawan, kok.

Endless Soap Opera

Sudah sekian hari berlalu dengan pembicaraan formalitas mu itu.

Pertanyaan saya,

Sampai kapan begini terus?

Sekarang apa tujuannya? Imbalan yang setimpal? Yang melakukan salah siapa? Masalah yang dibahas sudah berapa kali diperselisihkan?

Saya tidak berusaha memperbaiki suasana? Lihat berapa kali saya bicara panjang lebar kemudian hanya dibalas dengan satu kata. Lihat berapa kali saya berusaha jadi pihak yang positif kemudian dianggap angin lalu.
Saya tidak berusaha membahas isunya? Lihat berapa kali saya bertanya soal itu dan berakhir di kekesalan dua belah pihak.

Sesulit itukah untuk memaafkan, melepaskan, dan melanjutkan hidup ke arah normal lagi? Kalau memang sesulit itu, berarti memang sudah berubah. Sekarang kalau sudah berubah dan tidak bisa kembali normal, apa gunanya masih dilanjutkan?

Sepenting itukah aksi balasan ini?
Apa tujuannya bersikap seperti ini?
Kepuasan pribadi?
Anda lebih suka dalam suasana beracun ini?

Saya tidak.

Jujur, saya tidak suka memperumit hidup.
Jujur, saya sudah lelah.

Saya kira kalau kita memang merasa apa yang dimiliki itu penting, kita harusnya menghilangkan segala bentuk racun yang ada, bukan justru mempertahankannya demi ego.

Tapi mungkin memang berbeda. Mungkin memang tidak sesuai.

Tidak perlu dipaksakan.

Humanity?

Jujur,

Baru sekitar setahun terakhir saya aktif menyimak berita politik dan sosial.
Iya, ini kurang terpuji ya.
Iya, mungkin memalukan.
Saya akui.
Sekarang yang penting bukan itu.

Pertanyaan saya...

Memangnya dunia selalu seperti ini ya dari dulu?

Kenapa saya merasa dunia ini kok fucked up sekali?

Benarkah manusia memang semakin hari semakin jahat?

Atau memang sudah dari dulu seperti itu?

Seorang misoginis yang diskriminatif dengan tingkat intelegensi anak sekolah dasar, bisa jadi presiden negara terkuat di dunia?
Memukuli siswa tidak bersalah hanya karena mereka memiliki ras yang berbeda?
Orang yang jelas-jelas butuh bantuan karena mengalami gangguan jiwa, jadi bahan cacian publik?
Tersangka dari kasus korupsi terbesar di Indonesia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan dengan senyum lebar di mulutnya, tanpa rasa malu atau bersalah?
Mencuci otak dengan menggunakan agama yang katanya sakral jadi alat politik?
Mengatasnamakan rakyat Indonesia untuk mengganti ideologi negara demi mewujudkan hasrat fanatik pribadi?
Mendewakan 'orang suci' yang jelas-jelas menyerukan kebencian tanpa rasa malu di depan publik?
Membahayakan nyawa orang lain demi keserakahan sendiri?

Sekacau ini dunia kita dulu? Apa kabar masa depan?

Brb moving to another planet then.

Long haul

One fine day,
I thought to myself,
"Oh this day would be boring."
Then all of a sudden, a hurricane came knocking on my doorstep,
Shouting "Here, let me make your day less boring."
Huff and puff he blew the door down, and there he went.
Bringing in rain and thunderstorm into my house,
Ruining my quiet boring house into a shipwreck.
"You're welcome," and he went off.


One stormy day,
I thought to myself,
"Oh dear. What a misfortune. I have had turd in my plate all day. I just want a peace and a quiet stay in my house."
Then all of a sudden, a hurricane came knocking on my doorstep,
Shouting "Here, you haven't had enough turd in your plate."
Huff and puff he blew the door down, and there he went.
Bringing in the biggest turd i have ever seen all day, and drowning me in the sea of turd.
"You're welcome," and he went off.

One sunny day,
I thought to myself,
"Golly! What a beautiful day! It's a pair of delight and sunshine wrapped as presents."
Then all of a sudden, a hurricane came knocking on my doorstep,
Shouting "Too much delight in one room! Forget the delights, i have something even better for you."
Huff and puff he blew the door down, and there he went.
Eating up both of the presents that i just got, switching them into a big plate of turd.
He took the sunshine and switched it into a sky full of dark cloud.
Bringing in rain and thunderstorm into my house,
Turning my house into a shipwreck and drowning me inside.
"You're welcome," he said,

"...and see you tomorrow."

"...never did run smooth", Shakespeare said.

I used to think no one will ever stand me though. I still do even until now.

And yet here you are...

Struggling with me together on this thing that you used to be skeptical about. Oh how things are hard right now.

And here i am...

Crying in the dark cause this thing we have is not easy at all.

Longing for the day when we can finally spend 24/7 together without this human-glorified-invention, being held constantly in our hands.

Scared of the events that haven't happened yet.

Grass is always greener

They said true happiness is to stop comparing your shit to others. 
Well in that case I'm just fvcked big time.


Seharian ini rusak mood saya. Marah terus rasanya. Marah sama semuanya. Marah sama saya sendiri. Marah kenapa saya mudah sekali dijatuhkan. Marah kenapa itu jadi naluri saya. 

Nggak hanya marah. Kecewa, malu, sedih. Gara-gara saya sendiri cari bala. 

Ugh.

Saya kadang-kadang ingin mati rasa aja gitu. Sepertinya lebih mudah. Nggak perlu lagi kecewa karena ekspektasi atas orang lain. Bodoh juga saya. Orang lain selalu mengecewakan, masih aja diharapkan. Nggak perlu lagi iri dengan rumput tetangga. Bodoh, rumput tetangga selalu lebih hijau. Buat apa iri lagi. 

So much for anniversary.

maybe happiness is not for everybody. it's definitely not for me.


Saya kapok merasa terlalu bahagia. Karena tidak lama kemudian pasti semuanya hilang.

Saya pernah bahagia dengan semua yang saya miliki. Sumpah saya bersyukur sekali waktu itu.

Tapi ternyata bersyukur tidak menjamin semuanya akan baik-baik saja.

Ternyata bersyukur tidak menjamin semuanya tetap bahagia.

Nyatanya sekarang bahkan satu-satunya yang saya miliki juga mau direnggut.

Kalau begini tidak ada gunanya saya bahagia.

Silahkan ambil semua yang saya punya.

Saya sudah siap kehilangan semuanya.

A Slacking Post

Who knew crying could give a terrible pain in the back of the head?

What's up? Heheh. The reason why this post is called 'A Slacking Post', is because I am slacking while writing this. To be fair, I am slacking on my Writing improvement exercise, but since I'm doing it to make a piece of writing on some other platform, that means it's a responsible slacking...no? You can't blame me cause my head is hurting so bad and I can't stand seeing graphs at the moment :( Sad.

Enough giving excuses. Let's get to the point. So how's 2017 so far?

For me it has been pretty shitty :)

Whoops. No cursing allowed. This is a writing improvement exercise. I am not supposed to write any cursing or slangs in some sort... Alright.

I am just too disappointed by my mundane mediocre life, for kicking me in the crotch and literally throwing shit at me.

Damn, curses again.

Do you ever get the feeling like no matter how hard you try, sometimes it's just never enough? Or no matter how much better you improve, there would still be people who are better than you? Just like that, everything you have worked on to improve yourself disappears and you're still the same old talentless potato you started off with.

All I'm saying is...

"WHAT THE ACTUAL FUDGE? Is this like a karma or something?"

I'm not going to go into details... Too depressing, nobody wants to see it.

But it's true though. You only get to see what you have AND what you don't have, only in misery.

You get to see people who are there for you always. You get to see people who wouldn't be there...or even worse people who were never there. You get to see people who used to be there...but not anymore.

I guess I am thankful for the rest of the stuff I still have at the moment.

Is this adulthood? Nobody warns shit about this.

P.S.
Thank you, Puddin' – for risking your life to listen to your sad potato's angst in the midst of drunkards' fight. Also for successfully making me smile by bringing up Colonel Sanders as the example, although I may not be as awesome as him. 

Despicable Moi


Saya cuma binatang jalang.

Dari kumpulannya yang terbuang.

Jadi cerca saya saja sepuasnya. Saya pantas dapat itu.

Saya memang sulit untuk dihadapi. Saya memang biasa hidup sendiri. Saya memang buruk ketika harus berhadapan dengan manusia lain. 

Maaf. 

Saya minta maaf karena Anda telah berurusan dengan saya. 

Saya benci terus-terusan meracuni orang lain.

Maybe


Maybe it's the place that's wrong. Nah. You and I kick distance in the ballsz. Maybe it's the time. Yes. I like to believe it's the time. The time hasn't let us grow just yet. We're both still greenish. We're both still selfish. We're both still kids. Both of us haven't grasped the concept of maturity and tolerance yet. Both of us still got the ego in the size of Jupiter.

Because maybe, when the time comes, everything will be right. Maybe, by the time we grow up, we would be different. Maybe we would understand how to treat people better. Maybe, we will know how to treat each other better. Maybe by then, it will work things out easily. Maybe, everything will be right. 

Yeah... Must be the time, huh?








Not the person. 

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE