Mask Free Zone

3:19 AM

Saya tadinya nggak pernah terpikir untuk menulis tentang topik ini. Ada hal-hal yang dipertimbangkan juga. Pertama, mungkin karena saya tidak ingin menjelek-jelekkan atau menyindir kawan sendiri atas suatu hal yang sebetulnya cuma berupa prasangka. Kedua, mengingat saya yang bisa jadi sangat sensitif, saya tidak mau saya yang sering berprasangka buruk sama sekitar ini jadi meracuni hubungan saya dan kawan saya dengan dugaan-dugaan sesat.

Tapi jujur agak kecewa juga sih setelah hari itu. Terlebih lagi ketika satu kawan lain yang 'kompor' mulai membuka topiknya. Hal itu jadi buat saya agak sadar, kalau yang merasakan lebih dari satu, berarti bukan saya yang salah ya?


⟶⟶⟶⟶


Semua orang pasti pernah ya mengalami kehilangan kawan? Menurut saya itu hal yang lumrah lah. Lumrah, karena nggak semua orang bisa cocok satu sama lain. Lumrah karena terkadang manusia berubah 180 derajat, menjadi orang yang jauh berbeda dari apa yang dulu kita kenal. Lumrah karena terkadang manusia perlu tersakiti dulu untuk sadar kalau mereka bukan kawan yang baik. Lumrah karena manusia kadang bodoh... telat sadar kalau mereka bukan kawan yang diinginkan.

Memang, intinya nggak ada yang perlu dipaksakan.

Saya sendiri pernah mengalami kehilangan kawan. Beberapa kali malah. Dari kasus saya yang ditinggalkan, atau saya sendiri yang meninggalkan, atau bahkan sama-sama meninggalkan, baik sengaja ataupun nggak. Istilahnya saya udah hafal betul lah soal semua itu. Tapi saya nggak akan bahas semuanya sekarang. Untuk sekarang mungkin lebih terdorong untuk menulis yang ini aja ya.

Karena itu sekarang kalau hal-hal menjurus itu mulai terjadi, saya selalu coba untuk lihat dari sisi dua belah pihak sebelum terjun ke pengecapan secara permanen. Sama untuk kasus yang ini juga. Saya nggak mau cepat-cepat langsung terjun mengecap buruk atau apapun itu.

Kawan saya ini... Entah juga sih harus menjelaskan dari mana. Intinya dia sempat jauh menghilang beberapa lama, dan sekarang telah kembali gitu. Tapi setelah kembali, entah kenapa jadi susah sekali untuk ditemukan.

Long story short, dikarenakan wacana-wacana yang terus beredar tanpa ada kejelasan lanjutan, lama-lama saya mulai merasa janggal. Kenapa sekarang jadi begini? Apa dari dulu sesulit ini? Atau memang sesulit itu sekarang? Lalu seperti biasa, muncul pikiran-pikiran buruk saya. Seperti apa saya yang berubah? Atau dia yang berubah?

Jujur, ketika itu saya benar-benar bawa pikiran. Bingung, kecewa... Semua deh.

Sampai saya tiba-tiba teringat masa lalu saya. Saya yang berada di posisi sebaliknya. Saya yang meninggalkan karena alasan-alasan pribadi saya. Seketika itu juga saya bisa mengerti. Mungkin memang dia juga memiliki alasan-alasan pribadi yang tidak bisa disampaikan, sehingga memaksa dia untuk menghilang seperti itu.

"Oh... Yasudah. Tidak apa-apa." 

Hanya itu yang bisa saya gumamkan dan sampai detik ini saya lega untuk bisa dengan tulus mengatakan kata-kata itu tanpa sarkasme atau pura-pura belaka. Ketika itu juga saya rela melepas dan menerima apapun kondisinya. Saya sudah berkomitmen untuk tidak mengutuk atau mengecap dirinya dengan label apa-apa. Saya benar-benar tidak akan mengambil masalah ini secara personal, tanpa dendam atau perasaan apa-apa. Saya serahkan dengan keadaan, dan saya pun berhenti mengusik dia.

Semua di tangan dia.

Lalu beberapa waktu terlewat, tiba-tiba di hari besar saya, dia menghubungi saya untuk mengucapkan selamat. Sempat agak terkejut dan tidak menyangka sama sekali. Saya tanggapi dengan baik dan normal, sama seperti saya selalu menanggapi semua kawan saya. Tiba-tiba dia mengatakan bahwa dia mengajak untuk bertemu saya, kalau saya ada waktu. Saya melotot. Mungkin saya salah baca. Tapi nggak, saya nggak salah baca. Kemudian saya undang untuk bertemu bersama kawan-kawan lain juga di suatu rencana yang memang sudah jadi bahan diskusi kami selama ini. Ia sempat terlihat senang dan memberi saran untuk rencana tersebut.

Sampai ketika waktu mendekati rencana tersebut, kami buat perkumpulan untuk membicarakan hal tersebut. Tapi seperti yang selalu terjadi sebelumnya, dia tidak bersuara apa-apa. Saya mulai menduga kalau ini hanya akan menjadi wacana seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Saya pun benar. Tidak ada satu kata atau suara ataupun sekedar tanda keberadaan dia di perkumpulan itu.

"Oh... Yasudah. Tidak apa-apa." 

Sekali lagi saya mengatakan hal itu. Sekali lagi kawan-kawan saya bertanya "Kenapa?" kepada saya, padahal saya sendiri juga berada di posisi mereka, yang sudah bertanya hal yang sama selama berminggu-minggu yang lalu. Sekali lagi harus jadi juru bicara di dalam perkumpulan itu. Sekali lagi harus jadi 'pengacara' di pengadilan yang diciptakan oleh kawan-kawan sendiri ketika klien terdakwa saya hilang ditelan angin.

"Sepertinya orang seperti itu tidak bisa memiliki kawan," ujar salah satu dari mereka, merupakan yang paling vokal di antara yang lainnya.

"...kurang tau juga ya." jawab saya, sebagai pengacara diplomatis yang berusaha memilih kata sebaik-baiknya, se-minim-porovokasi mungkin, supaya tidak memperkeruh suasana.

Jawaban jujur saya:
Tidak. Belum tentu begitu situasinya. Buktinya saya tau dia punya kawan-kawan lainnya yang masih aktif bersama dia sampai sekarang. Dia bisa loyal, hanya saja nggak ke kita, kawan.

"Apa sulitnya sih memberi kabar? Kalau memang tidak mau, ya harusnya katakan 'Tidak'. Kita juga akan paham. Bukan memberi ketidakpastian seperti ini," masih orang yang sama, menyemprot dengan dingin. Kawan-kawan yang lain hanya bisa membisu.

"Ya... Memang sedikit kabar itu jauh lebih baik dibanding tidak sama sekali," tanggap saya, mulai bingung bagaimana cara menjustifikasi argumen ini secara netral.

"Kesannya tidak menghargai tau?" 

"...."

Hening. Di situ saya tidak tau harus bicara apa lagi. Di situ saya agak sedih mendengar komentar kawan saya. Lebih sedih lagi waktu sadar bahwa yang dikatakan itu masuk akal.

Saya di sini bukan untuk membenarkan apa yang kawan saya lontarkan waktu itu. Saya yakin dia tidak ada maksud seperti itu. Saya yakin kawan saya tidak semena-mena itu. Tapi saya juga menulis ini bukan untuk membenarkan apa yang dilakukan kawan saya yang itu. Hanya satu hal yang saya harap kawan saya bisa mengerti.


Hai, Kawan.

Saya tidak ada masalah jika nantinya kau yang akan meninggalkan ini. Saya tidak ada masalah jika alasanmu selama ini adalah sesederhana tidak merasa cocok lagi dengan kami. Saya tidak ada masalah jika hal ini memang hanya untuk sementara. Saya juga tidak masalah kalau ternyata kau sudah tidak nyaman lagi di sini.

SUMPAH. Tidak akan jadi masalah.

Kita semua sudah dewasa. Saya paham bahwa memang tidak ada hal yang bisa dipaksakan. Saya paham bahwa tidak semua orang bisa cocok. Saya percaya kau punya alasan yang bagus untuk semua ini dan saya tidak akan menghalang-halangi itu semua. Saya juga siap melepas kalau memang ingin dilepas.

Memang kawan yang menghilang itu menyedihkan. Memang wacana-wacana itu terasa membosankan. Memang menunggu kabar itu terkadang melelahkan. Tapi terlebih dari itu semua, bukan itu yang saya kecewakan darimu.

Saya kecewa, kenapa harus berpura-pura?

Kalau memang tidak ingin, kenapa harus mengajak? Kalau memang tidak ingin, kenapa harus bertingkah seakan-akan sebaliknya? Apa itu semua hanya supaya tidak terlihat kasar? Apa itu semua sekedar basa-basi belaka?

Kawan, sadarlah. Kita sudah berkawan cukup lama tanpa perlu basa-basi. Saya tidak butuh basa-basi hanya demi terjalinnya hubungan yang sekedar ada. Saya tidak ingin kita berpura-pura menutupi gajah di dalam ruangan, yang sebetulnya kita berdua pahami itu.

Berurusan dengan saya itu sangat sederhana.
Saya suka, saya akan hadir.
Saya tidak suka, saya akan menjaga jarak.
Anda suka, silahkan tinggal.
Anda tidak suka, silahkan menjaga jarak.
Ketika saya bilang mau, ya artinya memang mau.
Ketika saya bilang tidak, ya artinya memang tidak.
Karena yang 'suka' tidak bisa dipaksa untuk 'tidak suka', begitu juga yang 'tidak suka', tak bisa dipaksa untuk 'suka'.

Saya tidak akan mau bermuka dua. Saya pernah mencoba dan tidak pernah mau lagi. Melelahkan tau? Hidup sudah melelahkan. Saya tidak mau dipersulit lagi dengan berpura-pura atau bermuka dua. Itu alasan saya kalau selama ini saya menjaga jarak atau tidak sedekat dulu lagi dengan beberapa orang. Lebih baik begitu daripada saya harus bersikap palsu.

Intinya lakukan hal yang perlu dilakukan. Kalau memang memiliki alasan-alasan apapun, silahkan. Kalau memang tidak ingin, jangan katakan ingin. Kalau memang tidak ingin, ya bersikaplah seperti tidak ingin. Kalau memang ingin, bersikaplah seperti orang yang memang ingin. Kami semua juga tidak menuntut apa-apa. Yang kami tuntut cuma kejujuran saja. Tak usah pura-pura ataupun basa-basi. Ini bukan politik. Biarkan Pak Jokowi dan anteknya aja yang berpolitik.

Apapun hasil akhirnya, saya akan selalu menganggapmu kawan, kok.

You Might Also Like

0 voices

Popular Posts

INTEREST?

DARK SIDE